The red femi

Posts Tagged ‘padang

saya (pernah) bahagia bersamanya

with one comment

karena saya sungguh bahagia memilikinya.

tokiko onose.

nyatanya saya (pernah) bahagia bersamanya. dan, guratan bahagia ini masih tampak jelas. ini, lihat, coba mendekat kemari. apa kalian bisa lihat jejaknya?

ada genggaman hangat sepanjang hari. memetik binar mata yang mengerdip pelahan. dan pelukan bola raksasa seolah memandekkan gerakan jarum jam.

obrolan hangat sepanjang malam. kecipak air yang membikin bergidik. suapan sate dan bumbu kental sate padang. kebingungan mencari jalan di padang. hari yang ‘habis’ di jakarta.

dia begitu hangat. dia membikin saya tak bisa berhenti meminggirkan ingatan tentangnya.

 

(ps: agaknya saya salah keliru menjumput musik dari gudang lagu milik bram, ujung minggu lalu. lagu-lagu yang saya angkut secara acak nyatanya membikin saya harus menyerah: memikirkan tokiko onose lagi)

 

Written by femi adi soempeno

June 16, 2008 at 10:51 am

Tokiko Onose

leave a comment »

Tokiko Onose, kisah cinta yang tak pernah usang.

saya mengintipnya kembali. iya, cerita yang sudah saya mulai beberapa waktu lalu. cerita cinta. tidak pernah usang. tapi nyatanya akan mengusang. menua. dan, mungkin terlupa.

humm. tidak. saya tidak akan membuatnya terlupa begitu saja. saya tidak akan membuatnya hilang seiring dengan rambut yang memutih dan punggung yang membongkok. ingatan itu tak akan hilang. saya akan membuatnya abadi, dan lebih abadi, dan tetap abadi. iya. tokiko onose.

Aku hanya terpekur di ruangan ini. Kosong. Hampa. Hatiku meluruh.

Reroncean ingatan melayang dari ratusan kertas yang tertempel lekat di lima sisi dinding kamar di rumah jompo ini. Jendela besar di sisi yang lain, menghampar menantang mentari pagi. Hangat. Tapi, kosong. Menabrakkan pandangan ke dinding kamar ini, hanya kenangan yang aku punya. Ratusan kartu pos tanpa perangko. Buku saku golf. Topi golf. Pita putih dengan corak jantung hati berwarna merah. Surat-surat yang diketik dengan font 12 times new roman, align text left. Sumpit kayu. Kartu ulang tahun. Kartu tahun baru. Compact disc lawas Michael Bubble.

Aku mengenal coretan tangan di kartupos itu. Goresan pulpen yang tidak pernah ditulis dengan terburu-buru. Sebagian mengabarkan rasa rindu. Sebagian mengabarkan cerita tentang telepon cinta yang berjejak. Semuanya adalah tentang ingatan yang terawat dengan baik. Hingga kini. Hingga berpuluh-puluh tahun usai catatan itu dibuat dan melapuk. Tapi ingatannya tak pernah usang karena pemiliknya merawatnya dengan baik.

Tangan keriput ini menyapu setiap dinding yang tertempel penuh dengan kertas-kertas itu. Gemetar. Ada keharuan saat permukaan tangan ini beradu dengan kertas-kertas yang menua. Aku tahu, tangan ini tak lagi perkasa untuk menyentuhnya dengan tekanan yang kuat. Tapi, tangan ini masih mampu menjangkau setiap sudut kertas yang sudah menguning ini. Bahkan, masih mengingatnya dengan baik setiap isi cerita yang diumbar dalam secarik kartu pos maupun surat yang diketik rapi itu.

“Tokiko Onose, laki-laki dengan piyama kotak-kotak merah …” gumamku, meluncur dengan begitu saja. Dan butiran bening dari sudut mata ini jatuh perlahan. Terus jatuh. Menderas. Ingatan akan Tokiko Onose adalah kehangatan yang tak pernah berhenti mengalir. Laki-laki dengan piyama kotak-kotak merah itu adalah keriuhan kecil yang selalu menyelusup ke dasar hati.

Aku memilih untuk menggeret kursi. Duduk. Sepi.

…..

saya tahu. saya sudah memulainya. 

Written by femi adi soempeno

April 8, 2008 at 7:22 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , ,

Take Off to Padang

leave a comment »

album tua mengusik saya.

karimata, dengan judulnya Jezz. aih. barangkali, karena judulnya adalah Take Off to Padang, saya jadi lebih sering mencuri dengar kembali instrumen dari album lawas itu lagi. album ini menggandeng musisi jazz kawakan, mulai dari phill perry, don grusin, lee ritenour, ernie watts dan bob james. musik di album ini digarap gotong-royong oleh ABCDE alias aminoto kosin, budhy haryono, chandra darusman, denny tr dan erwin gutawa.

take off to padang.

saya tercenung menyimak instrumen ini. saya terus menyimak. memutarnya kembali. dan kembali. dan terus. melantun pelan. iramanya menyurung ingatan pada sesuatu dan seseorang di suatu masa.

saya masih ingat persis bagaimana rasanya pesawat yang saya tumpangi take off menuju padang. memang, saat-saat take off membuat badan saya sedikit ngilu. tapi, tidak pagi itu. celana pendek krem, kaos oranye, sandal biru teva. travel bag kuning, backpack merah. satu tas besar, isinya folding bike csl.

saya mengundang supir bluebird untuk mengantarkan saya ke bandara. kami berbincang panjang. sebagai tanda kegembiraan dan buncah panjang yang bakal saya petik di padang, saya memberikan ekstra tips buat pak supir. hingga si burung besi mengantarkan saya menuju padang, pagi itu. take off to padang!

gembira. berdebar. seperti ada pelangi dengan tujuh larik warna indah yang membuntuti saya.

dua malam di padang, saya mengkarungkan kegembiraan. keramahan orang-orang bukittinggi. segelas kopi hitam di kedai nan yo. kebingungan sejumlah orang dengan folding bike yang saya bawa. berkejaran dengan penjual baut yang enggan mendapat kelebihan recehan. dan, tentu saja, jejalinan dengan lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah.

lagu ini membuat hati saya makin kisut. saya tahu saya harus bergerak. dan saya sedang mencoba bergerak.

padang adalah jejakan yang indah di awal tahun. meski dua bulan sesudahnya cerita cinta ini usai, toh, padang tetap meninggalkan catatan liburan yang menyenangkan dan harus disyukuri.

iya, saya harus tetap mensyukurinya.

take off to padang? lain kali, saya pasti akan ke kota ini lagi.  

Written by femi adi soempeno

March 23, 2008 at 7:57 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

sakura

leave a comment »

“selamat pagi!” sapa saya padanya. humh. harusnya kebiasaan ini sudah saya hentikan. tapi, saya masih terus menyapanya saban pagi. lewat desahan hati yang kini mulai mengkerut pelan. tapi pagi ini saya masih saja menyapanya. aih, andai saya bisa berhenti untuk menyalaminya saban pagi. andai bisa, pasti saya lakukan. tapi setiap mata ini membuka, seperti mesin otomatis, akan membisik pelan. berharap udara pagi akan menerbangkan salam saya untuknya.  

Senada cinta bersemi di antara kita
menyambut anggunnya peranan jiwa asmara
terlanjur untuk berhenti di jalan yang telah tertempuh semenjak dini
sehidup semati

setelahnya, saya merasa menyesal. eh, bukan, bukan. tepatnya, pedih.  sekarang saya hanya bisa bergumam pendek. tanpa ada balasan. tanpa ada sapa balik dari laki-laki dengan pjamas kotak-kotak merah. saya hanya mengatupkan mata kembali, mencoba tidur lagi. tetapi, selalu, tidak bisa.

Kian lama kian pasrah kurasakan jua
janji yang terucap tak mungkin terhapus saja
walau rintangan berjuta walau godaan memaksa diriku terjerat
dipeluk asamara

sudah seminggu ini sapa hangat ini tak terpercik darinya. tak lagi hangat. adem. dingin. bahkan, sebentar lagi juga membeku. sudah mencoba beragam cara untuk melumerkannya. menggarangnya diatas pemanas. tetap juga beku. menjemurnya dibawah terik. tetap juga beku. saya tahu persis, besok tetap akan membeku.

Terlambat untuk berdusta, terlambatlah sudah
menipu sanubari tak semudah kusangka
yakin akan cintamu yakinkan segalanya
perlahan dan pasti daku kan melangkah menuju damai jiwa

keyakinan ini pupus. habis sudah. sapa pagi tak lagi menyisakan rasa rindu yang harus ditabung. sebaliknya, hanya memendam rindu, dan terus merindu. sendiri.

Bersama dirimu terbebas dari nestapa
dalam wangi bunga cita cinta nan bahagia
walau rintangan berjuta walau godaan memaksa diriku terjerat
dipeluk asmara

Written by femi adi soempeno

March 11, 2008 at 9:55 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , ,

saya tak bisa berhenti bahagia

with one comment

saya bersyukur, tidak ada obat penawar bagi rasa bahagia. jadi, rasanya kebahagiaan ini tak akan habis.

dan saya yakin, rasa bahagia ini akan terus menjejak hati. lihat, pipi saya selalu memerah bila mengingatnya. sunggingan bibir ini tak putus-putusnya menyurut setiap kali melihat benda-benda yang mengingatkan saya padanya.

dream2.jpgdark choc lindt kesukaan saya. kotak kaleng biskuit cokelat yang dibungkus dengan kertas hijau gelap. luggage-tag si burung besi. dompet tante-tante berwarna merah. stiker tas sepeda ‘fragile’. semuanya masih ada di meja saya. saya tak ingin membuangnya. iya, saya akan menyimpan rapi semuanya. mereka masih ada di meja saya. warna keemasan kotak cokelat ini akan menyerang indera lihat siapa saya yang lewat di depan kubikel saya. iya, kotak-kotak cokelat itu masih ada di atas meja. persis di sebelah kanan saya, tempat saya membuncahkan bahagia di halaman putih ini.

ya ampun Tuhan, jangan ambil rasa bahagia ini ya!

kemarin.

meradelima. saya dan laki-laki dengan pjamas kotak-kotak memesan tiga porsi. ayam bakar bumbu kuning. sop iga dan sate ayam. kami sembari berbincang tentang banyak hal. pola makan. kebiasaan sehari-hari. pekerjaan. teman-teman. juga, tentang waktu yang sebentar lagi habis. si kecil yang bandel menggoda kami. mencoba mencuri perhatian kami. aih, siapa takut? kami justru balik menggodanya.

kinokuniya pondok indah. tak banyak buku yang bisa diangkut. pelajaran bahasa inggris-jepang-indonesia, tak ada. yang ada adalah kamus inggris-indonesia. owh, tidak!

starbucks pondok indah. dua kue ada di meja. yang habis? satu saja. padahal, maunya pesan tiga. frapucinno java chip grande, itu pesanan saya. selebihnya, ada apple juice dan latte. eh, ada yang cemburu rupanya saya duduk berjejeran dengannya!

sogo pondok indah. yang dicari buah kelengkeng.

sarinah thamrin. kaos khas indonesia. humh. ada ya? ini untuk oleh-oleh kerabat di seberang. “harusnya kamu yang dibungkus untuk dibawa pulang. baik hati, tidak sombong, pemaaf, murah hati, tidak pelit, mudah lupa … ” kata abang saya saat saya bilang padanya sedang ada di sarinah. haduh, abang ini apa-apaan.

pulang.

hari ini.

sogo plaza indonesia. kami datang kepagian ke cilantro. hasilnya, kami menyambangi sogo plaza indonesia. membungkus dua jus buah dan satu yoghurt. lima belas kotak cokelat. jambu air. belimbing.

cilantro. kami ada di lantai paling tinggi di gedung tertinggi di jakarta. hore! saya berharap, bukan hanya mencicipi racikan sushi di resto tertinggi ini saja. tapi, menggantungkan harap lebih tinggi dari jumlah lantai di gedung ini.

pulang.

malam nanti laki-laki dengan pjamas kotak-kotak merah itu akan memunggungi saya. si burung besi akan mengantarnya kembali ke kandangnya. untuk berapa lama? entah. mungkin setahun, bisa jadi dua tahun, atau tiga tahun, bahkan empat tahun. bisa lebih. tidak tahu pasti. tak apa. jarak 5768 km tak akan menggerus rasa bahagia ini kok.

tapi tadi saya tak menangis. iya, tak ada butiran bening yang mengalir dari sudut mata. saya melihat lambaian di sudut antena VI di radio dalam itu. tapi saya tak bisa menangis. saya tersenyum. tahu kenapa? karena saya yakin saya akan menjumpainya kembali tak lama lagi.

saya masih ingat percakapan kami, minggu lalu. gelap membikin kami semakin melarut dalam canda dan hangat. 

“bulan empat ah aku ke sana. mmm … atau, bulan sembilan aja ya aku datang!” kata saya.

“boleh … boleh kapan saja … bulan sembilan juga boleh …” jawabnya.

“lho, kok bilang begitu sih?” tanya saya, menggugat.

“harusnya bilang bagaimana?” sergahnya, cepat.

“harusnya kamu bilang, ‘bulan empat ajaaaaa … kok bulan sembilan sih? kelamaan. bulan empat ya!’ gitu hun …” jawab saya. dan kami terbahak.

siang tadi, gurauan kami masih mendebatkan soal bulan empat dan bulan sembilan. “bagaimana kalau bulan dua saja?” tanyanya, seolah menantang. ah, maaf, kali ini saya tidak bisa menerima tantangan ini.

saya cukup mendekap bahagia ini. apapun yang terjadi besok pagi, harapan itu tetap tinggi kok. lebih tinggi dari gedung tertinggi di Jakarta. mimpi itu masih ada di sana. lebih indah dari kenyataan, pastinya. tapi tak apa. saya bahagia. bersamanya. disampingnya. meski cuma sebentar, dia sudah meninggalkan jejak disini. iya, jejaknya tetap tinggal, yaitu rasa bahagia yang amat sangat.

(ps: Tuhan, terima kasih ya untuk semuanya! kalau memang cinta itu indah, tunjukkan cinta yang indah itu melalui dia. dan, jangan ambil rasa bahagia ini ya.)

Written by femi adi soempeno

January 8, 2008 at 4:28 pm

Csl @ Padang (1)

with 5 comments

Sejak bulan lalu saya sudah merencanakan untuk menyambangi Padang, Sumatra Barat. Hampir 28 tahun saya hidup, belum sekalinya saya menginjak tanah Sumatera. Duh, kebangetan banget ya! Menjumpai soulmate adalah tujuan utama. Selebihnya, plesiran dengan sepeda lipat untuk menghabiskan Padang dan Bukittinggi dalam dua malam.

Penerbangan dengan Adam Air pukul 6.50 pada hari Kamis (3/1/2008)dari CGK menuju PDG. Awalnya, saya ingin membungkus sepeda curve SL (csl) dengan koper. Hanya saja, koper yang ada di gudang ternyata kekecilan. Alhasil, disarungi dengan tas id-foldingbike saja, dan dibubuhi stiker fragile. Saya tak mengempeskan ban. Dus, csl standar ini membebani timbangan di meja check in seberat 15 kg.

Tiba di Padang, saya langsung menuju hotel Ambacang dengan biaya Rp 385.000 semalam. Hotel ini baru jalan 1,5 tahun, bekas sebuah pusat perbelanjaan di kota Padang. Sisanya masih ada, yaitu Kentucky Fried Chicken di sebelah belakang. Sekadar review aja, pub-nya brisik banget di malam hari! Uwh! Jedang-jedungnya berasa dari pukul 22.00-02.00.

Dari hotel ini, saya memesan travel untuk ke Bukittinggi. Ongkosnya Rp 25.000 sekali jalan. Sayangnya, jemputan travel agak terlambat sehingga baru meninggalkan padang pada pukul 12.20. Sepeda lipat yang saya usung di bagasi L300 sudah ditaksir oleh Adek, supir travel. “Di jakarta banyak? Yang ini ditinggal di Padang untuk kenang-kenangan ya!” selorohnya. Waduh, kenang-kenangannya mahal amat! Csl gitu lowh!

Sekitar dua jam kemudian, saya dibuang persis di pelataran Jam Gadang atau di sekitar Pasar Atas. Langit cukup biru. Beruntung, beberapa hari Padang dan Bukittinggi tidak hujan. Mencoba membuka lipatan sepeda, duh … beberapa orang Padang mengerubungi saya dan berbicara dengan bahasa Padang yang tidak saya mengerti. Sialnya, perbincangan mereka kemudian diikuti dengan derai tawa yang saya juga tak bisa pahami. Duh!

Saya memutari Pasar Atas. Mencoba pemanasan untuk tanjakan dan turunan. Lumayan lah. Tanjakannya tidak terlalu sadis. Turunannya juga tidak terlalu memanjakan pedal. Napas saya tak juga habis. Lantaran sejak pagi perut belum terisi, saya menyambangi kedai Simpang Raya di Jalan Sudirman. Saya menjejerkan csl di bagian parkir roda dua, bersama dengan kendaraan bermesin lainnya.

Menu yang saya lahap adalah dendeng balado dan ayam pop, plus teh talua. Segelas teh talua dibikin dari perpaduan telur dan gula plus susu yang dikocok lalu dituangkan air teh panas mendidih. Campuran telur itik, susu, dan teh menghasilkan minuman berwarna putih, coklat, dan kuning dengan busa di bagian atasnya. Mirip cappucino. Konon, minum teh talua, cukup handal untuk menambah stamina.

Saya butuh waktu sekitar setengah jam untuk menghapuskan bayangan ada telur di dalam teh yang hendak saya sruput. Sungguh, tak habis pikir saya ada adonan telur di dalam minuman tersebut. Diguyurkan begitu saja ke tenggorokan, wuih, lezat nian teh talua ni!

Beberapa pegawai Simpang Raya sempat mengintip sepeda yang hendak saya kayuh meninggalkan jalan Sudirman. Duh, jadi artis dadakan di daerah nih! Wakaka … menyusuri Jalan Sudirman, beberapa kendaraan menjejeri saya, mencermati csl, tersenyum, menganggukkan kepala, lantas ngeloyor pergi. Tentu saja, saya tak mau kalah, saya membunyikan bel. Kring ring!

Saya menyusuri jalanan yang agak kampung di Bukittinggi. Kawasan ini cukup nyaman untuk bersepeda. Dengan riang, saya mengayuh sepeda dengan kecepatan sedang. Rasanya sayang melewatkan Bukittinggi dengan terburu-buru. Sawah dan pemandangan yang asri masih bisa dinikmati dengan telanjang mata. Bahkan, Bukittinggi juga miskin polusi.

Saya bablas ke Pasar Bawah. Pasarnya sih tidak istimewa, seperti pasar kebanyakan. Yang menjadi istimewa adalah andong dan angkot yang saling berebut jalan. Jalannya Cuma secuplik, tapi digunakan untuk dua jalur. Banyak yang ngetem, pulak! Untungnya, bawa csl yang gesit. Saya sempat mampir ke  toko sepeda untuk mencari baut yang lepas dari fender csl. Duh, ternyata nggak ada. Yang ada, malah csl ditawar. Maunya, Rp 150 ribu! Aduh, kejam nian uda menawar segitu!

Saya berhenti di rumah kelahiran Bung Hatta dan mencoba berbincang sejenak dengan perawat rumah bersejarah itu, yaitu uni Desiwarti. Tentu saja, tak lupa mejeng di pelataran rumah Bung Hatta tersebut. Maunya sih saya mejengin sepeda persis di depan kasur Bung Hatta. Tapi, ga tega minta ijinnya!

Saya genjot ke Pasar Atas, ke kawasan Jam Gadang. Langit masih cerah. Hanya saja, sinarannya sudah tidak terlalu garang. Cucok banget lah buat potret-potret saat adem begitu. Saya terus mengayuh dari Pasar Bawah ke pasar Atas. Seorang polisi yang tengah mengatur jalanan yang hendak masuk ke kawasan Jam Gadang, sontak menghentikan peluitannya dan memandangi genjotan saya. Haduh, pak polisi, malu atuh diliatin begitu.

Pret … pret … pret … Jepretan saya pada csl saya tembakkan dengan latar Jam Gadang. Sedap! Saya dikagetkan oleh suara seorang laki-laki setengah baya, saat asik mencari angle jepretan. “Mbak, sini saya potretkan, kok kasihan yang dipotret Cuma sepedanya aja … “ Waduh, padahal yang penting ini sesungguhnya bukan saya, tapi sepedanya! Tapi, atas nama kenarsisan, boleh jugalah! Dan tanpa malu-malu, saya pun berpose dengan csl kesayangan. Asik asik asik asik!

Namanya Zenal, asli orang Padang yang berumah di Jalan Thamrin. Ia bekerja untuk sebuah travel agent di Padang. Sore itu, ia bersama dengan pak Tohir dan Hartanto, dua guide dari Jakarta yang tengah membawa 60 turis ke Padang dan Bukittinggi. Tak lama setelah saya dan uda Zenal berbincang seru, dua guide Jakarta pun bergabung. Dan mulai deh, mereka memegang-megang csl saya.

“Seumur hidup, baru kali ini saya lihat sepeda seperti ini,” kata uda Zenal. Ia juga menambahkan, di Bukittinggi nggak ada sepeda lipat seperti itu. “Lha, ini ada di Bukittinggi!” seloroh saya. Nah lo! Maka, secara bergantian ketiganya memegang, bahkan mencoba si csl. Obrolan yang seru soal sepeda lipat, Bukittinggi, dan Padang ternyata dikuping oleh orang-orang yang juga tengah ada di pelataran Jam Gadang. Anak-anak hingga orang dewasa, mereka perlahan merapat, memperhatikan sepeda lipat. Duh!

Saat saya melipat csl menjadi ukuran lipetan, duuuuuh … semakin banyak yang mengerubungi! Tentu saja, saya semakin bersemangat bercerita soal sepeda lipat dan komunitas id-fb! Rasanya seperti tengah orasi dalam sebuah demonstrasi! Gosh!

Ujung-ujungnya, uda Zenal bilang, “Untuk pertemuan yang menyenangkan ini, bagaimana kalau saya traktir di Simpang Raya?” Wah, boleh! Csl pun saya angkut. Saya mengangkutnya masih dalam bentuk lipatan, dengan pandangan yang penuh tanda tanya dari beberapa orang yang kami lewati. Pak Tohir dan pak Hartanto pun rebutan menyebrangkan csl dari pelataran Jam Gadang menuju Simpang Raya. Hahaha !!

Terlalu asik ngobrol, saya kehabisan travel menuju Padang. Uda Zenal berusaha mencarikan travel-travel yang masih berangkat belakangan. Tetap saja hasilnya nihil: penuh. Pukul 17.43, saya berpamitan untuk menuju Simpang Air untuk ambil travel tembakan. Sopir travel tembakan ini langsung menyambut saya yang berniat menyewa bangku di Panther merahnya.

Air mukanya berubah saat melihat sepeda yang saya tungganggi dari Jam Gadang. “Bawa sepeda? Tak muat, kak!” serunya, sambil garuk-garuk kepala saat melihat saya datang dengan sepeda. Saya hanya bilang, “Muat, ada bagasi?” Si sopir masih menggeleng. Dalam hitungan detik, saya melipat sepeda dan ia langsung berteriak-teriak dalam bahasa Padang yang tak saya tahu. Tapi segera saja, sopir-sopir di dan kernet di sekitar Simpang Jambu Air pun langsung berdatangan dan melihat csl dalam kondisi tengah dalam proses dilipat.

Selesai melipat, sopir pertama tadi langsung menjinjing csl saya ke bagasi belakang. Amin, akhirnya ada juga travel yang mengusung saya ke Padang. Jadinya, rencana perjumpaan dengan soulmate aman! Menunggu penumpang lain berdatangan, saya membaur bersama dengan sopir dan kernet di sebuah warung kopi. Pesanan saya sama, yaitu kopi hitam pahit. Lagi-lagi, mereka bertanya soal sepeda lipat. Dan lagi-lagi, saya menjelaskan soal sepeda lipat.

Travel berangkat ke Padang! Ongkos travel tembakan ini Rp 15.000. Murah? Hmm … tapi agak sadis. Satu Panther diisi untuk 11 penumpang, termasuk sopir. Demi kenyamanan perjalanan, maka saya memilih duduk di kursi depan, dan memesan 2 seat sekaligus! Horeee! Sementara penumpang lain berdesak-desakan di jok belakang, saya duduk dengan sangat comfort di depan. saya menambah ongkos Rp 10.000 lagi agar diantar sampai hotel. Cihuy!

Malam hari tidak ada nightride di Padang, soalnya saya menjadualkan untuk bertemu dengan pasangan jiwa. Ehm.

Written by femi adi soempeno

January 6, 2008 at 2:23 pm

Csl @ Padang (2)

with 3 comments

Saya bersepeda dengan curve SL (csl) dari hotel di hari Jumat usai terguncang gempa Bengkulu yang berkekuatan 6,3 scala richter sekitar pukul 14.29. Staf hotel bilang kalau hotel Ambacang tergolong cukup kokoh dengan banyak pilar. Gempa-gempa sebelumnya, hotel tempat saya menginap ini ‘hanya’ pecah kacanya saja, sementara bangunan hotel lain retak bahkan menjadi miring.

Gowsh. Gempa tetap saja gempa. Apapun bisa terjadi, sekokoh apapun sebuah bangunan! Rasanya seperti saat gempa Jogja 2006 lalu. Saat tidur siang, seperti sedang dibangunkan. Sadar bahwa itu gempa, saya menyabet laptop, tiket, blackberry dan dompet. Tubuh saya gemetaran hingga selama hampir 45 menit sesudahnya. Makanya, saya memutuskan untuk berkeliling kota Padang dan nightride di Ranah Minang ini.

Perjalanan pertama saya awali menuju ke kawasan pecinan di kota Padang. Saya mampir di warung kopi Nan Yo yang sudah kesohor. Letaknya ada di jalan Niaga, sebelah menyebelah dengan warung kopi Revita. Mandek di depannya, saya melipat sepeda dan membawanya masuk. Viktor, cucu pendiri warung kopi ini bengong aja melihat saya melipat sepeda dan menjinjingnya masuk ke warung kopinya, kemudian memarkirkan persis di samping meja.

“Kopi hitam tanpa gula, panukuk dan lamang baluo!” pesan saya pada Viktor. Tapi saya terlambat datang. Panukuk alias pannekoek atau serabi dan lamang baluo yang semacam lemper berisi unti itu sudah habis. “Adanya pagi hari,” kata Viktor. Aih! Bahkan, saya gagal mencicipi cakwe yang dimasukkan kopi tubruk, cara khas Padang! Aaaaah! Hasilnya, saya hanya bisa menikmati kopi tubruk tanpa gula, kesukaan saya, plus bakwan.

Di belakang tempat saya duduk, bergerombollah bapak-bapak yang usianya sekitar 50 tahun keatas. Mereka bercakap-cakap dalam bahasa padang. Saya memilih untuk menikmati suasana lawas di kedai kopi ini, mencermati desain kursi yang sudah ada sejak tahun 1932 yang diusung oleh kakeknya Viktor dari Eropa Timur, dan memperhatikan Viktor yang sering mencuri lihat csl saya.

Hingga Anton, laki-laki Jawa yang merantau ke Sumatera Barat menghampiri saya untuk bertanya, “Ini sepeda didatangkan dari mana?” Duh, nggak ada pertanyaan yang lebih sederhana ya? Hehe … bagi saya pertanyaan ini agak membingungkan. Maka saya jawab sekenanya, “Saya beli di Jakarta, lisensi Amerika, bikinan Taiwan, saya pakai untuk keliling di kota-kota yang saya kunjungi.”

Dan Anton pun duduk semeja dengan saya, kami berbicara soal kuliner di Padang dan perbandingannya dengan di tanah Jawa. Tak lupa, juga soal sepeda lipat dan komunitas id-foldingbike. Seru banget obrolan kami!

Sebelum bola raksasa menggelap, saya memutuskan untuk meninggalkan Nan Yo, dan menyusuri kawasan Muaro Padang, untuk menuju Jembatan Siti Nurbaya. Jembatan ini selain untuk menuju sisi muara yang lain juga merupakan akses menuju Gunung Padang dan Pantai Air Manis di mana hidup legenda Batu si Malin Kundang. Jembatan ini menuju makam Siti Nurbaya yang dibikin mencolok di ketinggian.

Menaiki jembatan ini, tak perlu pakai tenaga ekstra kok. Asal siap mental saja, rasanya enteng saja menapaki Jembatan Siti Nurbaya dengan csl. Apalagi, bakal terbayar dengan satu porsi jagung bakar dan pisang bakar yang sudah mulai berderet sejak sore hari di sepanjang jembatan. Semalam sebelumnya, saya bersama abang meniti jembatan ini. Indah nian di kala malam dengan hiasan lampu!

Pret … pret … pret! Csl mulai bergaya. Sip! Tak lupa, saya ikut berpose dengan gaya apa adanya bersama dengan csl. Saya minta tolong seorang uni berkerudung putih yang berbaik hati memotretkan beberapa frame untuk saya.

Matahari belum habis. Saya memutuskan untuk menikmati bola raksasa yang hendak bersembunyi dari pinggir Pantai Padang. Segendang seperjogetan dengan Jembatan Siti Nurbaya, di sepanjang pantai ini juga sarat dengan penjual jagung bakar, roti bakar, pisang bakar, plus kacang rebus. Sekitar dua genggam kacang rebus yang dibungkus plastik, saya dikutip Rp 5.000.

Saya memilih pisang bakar plus keju, dan duduk melamun di pinggir pantai. Ongkosnya sama, Rp 5.000 seporsi. Saya menyandarkan csl di pohon kelapa. Aih! Kalau saja ada moroners di pinggir pantai ini, pasti seru sekali! Melipat sepeda di pinggir pantai dan menantang ombak yang menggemuruh. Aiiihh! Setelah bernarsis-narsis sebentar, saya menarik diri dari pucuk pantai, dan mulai menggenjot ke pucuk pantai yang lain. Sedap nian menikmati angin Pantai Padang di sore hari.

Pukul 18.00 tepat, saya sudah berada di Gereja Katedral Padang. Jumat pertama di bulan pertama 2008, saya kok tidak ingin melewatkan ibadat. Konon, menyambangi gereja yang baru pertama kali dikunjungi, tiga permintaan bakal dikabulkan oleh Si Pemilik Hidup. Benar? Entah. Minta saja. Dan saya juga mengujubkan tiga permintaan pribadi padaNya. Amin. Amin. Amin.

Nightride dimulai. Saya mengelilingi kota Padang. Asal genjot, menikmati kota yang asing bagi indera saya. Udara malam yang menyesak. Sapuan angin di kulit. Angkot yang musiknya berdentuman seperti di nightclub dengan kerlap-kerlip lampu nan meriah. Menjelajahi jalanan yang saya tak tahu utara-selatan-barat-timur. Asal kayuh. Asal jalanan beraspal.
Dan Padang habis dalam semalam. “Ke mana arah Jalan Bundo Kanduang?” tanya saya pada seorang penjual rokok. Mendengar penjelasannya, wuih, jauh juga! Tapi ga masalah, pakai csl ini, dan tidak hujan! Horeeee!

Saya mandek di kedai Pagi Sore di Jalan Pondok. Melipat sepeda, dan memarkirkannya di sebelah meja saya. Ini adalah kedai milik orang keturunan Tionghoa. Menu masakannya sama dengan kedai lain yang saya jumpai di Padang, yaitu ya masakan Padang. Bedanya dengan yang lainnya, ada sentuhan Tionghoa dalam pengolahannya. Upamanya, rendang kacang yang gurih dibikin dari kacang putih. Contoh lainnya, tahu yang dimasak tauco dengan santan encer dan cabe hijau.

Di kedai yang sudah berusia sekitar 60 tahun ini saya mencicipi rendang yang berwarna hitam. Konon, masak rendang ini selama 12 jam diatas api kecil dari kayu bakar. Dagingnya cukup empuk meski cubitan pertama terasa keras. Rempahnya itu yang berasa bangeeettt di lidah!

Barangkali sudah kemalaman, saya tak kebagian ayam goreng yang dimasak dari ayam kampung berbumbu minimalis. Konon, ayam goreng di kedai ini digoreng dengan minyak kelapa. Hasilnya, nyaris tak kelihatan ada minyak yang menempel pada permukaan ayam.

Perjalanan berlanjut, masih ngubek-ubek kawasan kota. Mau mampir ke Martabak Kubang untuk mencicipi martabak mesir, hanya saja perut sudah tak muat! Martabak ini seperti martabak telur, tapi dimakan dengan kecap encer yang dicampur cuka, bawang bombay, irisan tomat, dan cabe rawit. Bayangkan sedapnya!

Pilihan martabak mesir ini atas rekomendasi seorang bapak-bapak yang saya jumpai di warung kopi Nan Yo. Menurutnya, martabak mesir yang kesohor ada di jalan Muhammad Yamin, dengan merek Martabak Kubang itu. Konon, disebut Martabak Kubang karena pemilik dan pekerjanya berasal dari Kampung Kubang, sebuah nagari yang terletak di Kabupaten 50 Kota, Sumatra Barat.

Lantaran harus siap berkemas untuk bertolak dari PDG ke CGK pada hari Sabtu (5/1/2008) dengan Garuda pada pukul 8.25 keesokan paginya, saya memilih kembali ke hotel. Menggenjot csl ke hotel, membungkusnya dengan tas id-foldingbike, dan menggudangkannya semalaman di samping meja resepsionis.

Setelah Padang, kemana lagi ya csl saya bawa?

Written by femi adi soempeno

January 6, 2008 at 2:21 pm