The red femi

Posts Tagged ‘padang

saya (pernah) bahagia bersamanya

with one comment

karena saya sungguh bahagia memilikinya.

tokiko onose.

nyatanya saya (pernah) bahagia bersamanya. dan, guratan bahagia ini masih tampak jelas. ini, lihat, coba mendekat kemari. apa kalian bisa lihat jejaknya?

ada genggaman hangat sepanjang hari. memetik binar mata yang mengerdip pelahan. dan pelukan bola raksasa seolah memandekkan gerakan jarum jam.

obrolan hangat sepanjang malam. kecipak air yang membikin bergidik. suapan sate dan bumbu kental sate padang. kebingungan mencari jalan di padang. hari yang ‘habis’ di jakarta.

dia begitu hangat. dia membikin saya tak bisa berhenti meminggirkan ingatan tentangnya.

 

(ps: agaknya saya salah keliru menjumput musik dari gudang lagu milik bram, ujung minggu lalu. lagu-lagu yang saya angkut secara acak nyatanya membikin saya harus menyerah: memikirkan tokiko onose lagi)

 

Written by femi adi soempeno

June 16, 2008 at 10:51 am

Tokiko Onose

leave a comment »

Tokiko Onose, kisah cinta yang tak pernah usang.

saya mengintipnya kembali. iya, cerita yang sudah saya mulai beberapa waktu lalu. cerita cinta. tidak pernah usang. tapi nyatanya akan mengusang. menua. dan, mungkin terlupa.

humm. tidak. saya tidak akan membuatnya terlupa begitu saja. saya tidak akan membuatnya hilang seiring dengan rambut yang memutih dan punggung yang membongkok. ingatan itu tak akan hilang. saya akan membuatnya abadi, dan lebih abadi, dan tetap abadi. iya. tokiko onose.

Aku hanya terpekur di ruangan ini. Kosong. Hampa. Hatiku meluruh.

Reroncean ingatan melayang dari ratusan kertas yang tertempel lekat di lima sisi dinding kamar di rumah jompo ini. Jendela besar di sisi yang lain, menghampar menantang mentari pagi. Hangat. Tapi, kosong. Menabrakkan pandangan ke dinding kamar ini, hanya kenangan yang aku punya. Ratusan kartu pos tanpa perangko. Buku saku golf. Topi golf. Pita putih dengan corak jantung hati berwarna merah. Surat-surat yang diketik dengan font 12 times new roman, align text left. Sumpit kayu. Kartu ulang tahun. Kartu tahun baru. Compact disc lawas Michael Bubble.

Aku mengenal coretan tangan di kartupos itu. Goresan pulpen yang tidak pernah ditulis dengan terburu-buru. Sebagian mengabarkan rasa rindu. Sebagian mengabarkan cerita tentang telepon cinta yang berjejak. Semuanya adalah tentang ingatan yang terawat dengan baik. Hingga kini. Hingga berpuluh-puluh tahun usai catatan itu dibuat dan melapuk. Tapi ingatannya tak pernah usang karena pemiliknya merawatnya dengan baik.

Tangan keriput ini menyapu setiap dinding yang tertempel penuh dengan kertas-kertas itu. Gemetar. Ada keharuan saat permukaan tangan ini beradu dengan kertas-kertas yang menua. Aku tahu, tangan ini tak lagi perkasa untuk menyentuhnya dengan tekanan yang kuat. Tapi, tangan ini masih mampu menjangkau setiap sudut kertas yang sudah menguning ini. Bahkan, masih mengingatnya dengan baik setiap isi cerita yang diumbar dalam secarik kartu pos maupun surat yang diketik rapi itu.

“Tokiko Onose, laki-laki dengan piyama kotak-kotak merah …” gumamku, meluncur dengan begitu saja. Dan butiran bening dari sudut mata ini jatuh perlahan. Terus jatuh. Menderas. Ingatan akan Tokiko Onose adalah kehangatan yang tak pernah berhenti mengalir. Laki-laki dengan piyama kotak-kotak merah itu adalah keriuhan kecil yang selalu menyelusup ke dasar hati.

Aku memilih untuk menggeret kursi. Duduk. Sepi.

…..

saya tahu. saya sudah memulainya. 

Written by femi adi soempeno

April 8, 2008 at 7:22 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , ,

Take Off to Padang

leave a comment »

album tua mengusik saya.

karimata, dengan judulnya Jezz. aih. barangkali, karena judulnya adalah Take Off to Padang, saya jadi lebih sering mencuri dengar kembali instrumen dari album lawas itu lagi. album ini menggandeng musisi jazz kawakan, mulai dari phill perry, don grusin, lee ritenour, ernie watts dan bob james. musik di album ini digarap gotong-royong oleh ABCDE alias aminoto kosin, budhy haryono, chandra darusman, denny tr dan erwin gutawa.

take off to padang.

saya tercenung menyimak instrumen ini. saya terus menyimak. memutarnya kembali. dan kembali. dan terus. melantun pelan. iramanya menyurung ingatan pada sesuatu dan seseorang di suatu masa.

saya masih ingat persis bagaimana rasanya pesawat yang saya tumpangi take off menuju padang. memang, saat-saat take off membuat badan saya sedikit ngilu. tapi, tidak pagi itu. celana pendek krem, kaos oranye, sandal biru teva. travel bag kuning, backpack merah. satu tas besar, isinya folding bike csl.

saya mengundang supir bluebird untuk mengantarkan saya ke bandara. kami berbincang panjang. sebagai tanda kegembiraan dan buncah panjang yang bakal saya petik di padang, saya memberikan ekstra tips buat pak supir. hingga si burung besi mengantarkan saya menuju padang, pagi itu. take off to padang!

gembira. berdebar. seperti ada pelangi dengan tujuh larik warna indah yang membuntuti saya.

dua malam di padang, saya mengkarungkan kegembiraan. keramahan orang-orang bukittinggi. segelas kopi hitam di kedai nan yo. kebingungan sejumlah orang dengan folding bike yang saya bawa. berkejaran dengan penjual baut yang enggan mendapat kelebihan recehan. dan, tentu saja, jejalinan dengan lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah.

lagu ini membuat hati saya makin kisut. saya tahu saya harus bergerak. dan saya sedang mencoba bergerak.

padang adalah jejakan yang indah di awal tahun. meski dua bulan sesudahnya cerita cinta ini usai, toh, padang tetap meninggalkan catatan liburan yang menyenangkan dan harus disyukuri.

iya, saya harus tetap mensyukurinya.

take off to padang? lain kali, saya pasti akan ke kota ini lagi.  

Written by femi adi soempeno

March 23, 2008 at 7:57 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

sakura

leave a comment »

“selamat pagi!” sapa saya padanya. humh. harusnya kebiasaan ini sudah saya hentikan. tapi, saya masih terus menyapanya saban pagi. lewat desahan hati yang kini mulai mengkerut pelan. tapi pagi ini saya masih saja menyapanya. aih, andai saya bisa berhenti untuk menyalaminya saban pagi. andai bisa, pasti saya lakukan. tapi setiap mata ini membuka, seperti mesin otomatis, akan membisik pelan. berharap udara pagi akan menerbangkan salam saya untuknya.  

Senada cinta bersemi di antara kita
menyambut anggunnya peranan jiwa asmara
terlanjur untuk berhenti di jalan yang telah tertempuh semenjak dini
sehidup semati

setelahnya, saya merasa menyesal. eh, bukan, bukan. tepatnya, pedih.  sekarang saya hanya bisa bergumam pendek. tanpa ada balasan. tanpa ada sapa balik dari laki-laki dengan pjamas kotak-kotak merah. saya hanya mengatupkan mata kembali, mencoba tidur lagi. tetapi, selalu, tidak bisa.

Kian lama kian pasrah kurasakan jua
janji yang terucap tak mungkin terhapus saja
walau rintangan berjuta walau godaan memaksa diriku terjerat
dipeluk asamara

sudah seminggu ini sapa hangat ini tak terpercik darinya. tak lagi hangat. adem. dingin. bahkan, sebentar lagi juga membeku. sudah mencoba beragam cara untuk melumerkannya. menggarangnya diatas pemanas. tetap juga beku. menjemurnya dibawah terik. tetap juga beku. saya tahu persis, besok tetap akan membeku.

Terlambat untuk berdusta, terlambatlah sudah
menipu sanubari tak semudah kusangka
yakin akan cintamu yakinkan segalanya
perlahan dan pasti daku kan melangkah menuju damai jiwa

keyakinan ini pupus. habis sudah. sapa pagi tak lagi menyisakan rasa rindu yang harus ditabung. sebaliknya, hanya memendam rindu, dan terus merindu. sendiri.

Bersama dirimu terbebas dari nestapa
dalam wangi bunga cita cinta nan bahagia
walau rintangan berjuta walau godaan memaksa diriku terjerat
dipeluk asmara

Written by femi adi soempeno

March 11, 2008 at 9:55 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , ,

saya tak bisa berhenti bahagia

with one comment

saya bersyukur, tidak ada obat penawar bagi rasa bahagia. jadi, rasanya kebahagiaan ini tak akan habis.

dan saya yakin, rasa bahagia ini akan terus menjejak hati. lihat, pipi saya selalu memerah bila mengingatnya. sunggingan bibir ini tak putus-putusnya menyurut setiap kali melihat benda-benda yang mengingatkan saya padanya.

dream2.jpgdark choc lindt kesukaan saya. kotak kaleng biskuit cokelat yang dibungkus dengan kertas hijau gelap. luggage-tag si burung besi. dompet tante-tante berwarna merah. stiker tas sepeda ‘fragile’. semuanya masih ada di meja saya. saya tak ingin membuangnya. iya, saya akan menyimpan rapi semuanya. mereka masih ada di meja saya. warna keemasan kotak cokelat ini akan menyerang indera lihat siapa saya yang lewat di depan kubikel saya. iya, kotak-kotak cokelat itu masih ada di atas meja. persis di sebelah kanan saya, tempat saya membuncahkan bahagia di halaman putih ini.

ya ampun Tuhan, jangan ambil rasa bahagia ini ya!

kemarin.

meradelima. saya dan laki-laki dengan pjamas kotak-kotak memesan tiga porsi. ayam bakar bumbu kuning. sop iga dan sate ayam. kami sembari berbincang tentang banyak hal. pola makan. kebiasaan sehari-hari. pekerjaan. teman-teman. juga, tentang waktu yang sebentar lagi habis. si kecil yang bandel menggoda kami. mencoba mencuri perhatian kami. aih, siapa takut? kami justru balik menggodanya.

kinokuniya pondok indah. tak banyak buku yang bisa diangkut. pelajaran bahasa inggris-jepang-indonesia, tak ada. yang ada adalah kamus inggris-indonesia. owh, tidak!

starbucks pondok indah. dua kue ada di meja. yang habis? satu saja. padahal, maunya pesan tiga. frapucinno java chip grande, itu pesanan saya. selebihnya, ada apple juice dan latte. eh, ada yang cemburu rupanya saya duduk berjejeran dengannya!

sogo pondok indah. yang dicari buah kelengkeng.

sarinah thamrin. kaos khas indonesia. humh. ada ya? ini untuk oleh-oleh kerabat di seberang. “harusnya kamu yang dibungkus untuk dibawa pulang. baik hati, tidak sombong, pemaaf, murah hati, tidak pelit, mudah lupa … ” kata abang saya saat saya bilang padanya sedang ada di sarinah. haduh, abang ini apa-apaan.

pulang.

hari ini.

sogo plaza indonesia. kami datang kepagian ke cilantro. hasilnya, kami menyambangi sogo plaza indonesia. membungkus dua jus buah dan satu yoghurt. lima belas kotak cokelat. jambu air. belimbing.

cilantro. kami ada di lantai paling tinggi di gedung tertinggi di jakarta. hore! saya berharap, bukan hanya mencicipi racikan sushi di resto tertinggi ini saja. tapi, menggantungkan harap lebih tinggi dari jumlah lantai di gedung ini.

pulang.

malam nanti laki-laki dengan pjamas kotak-kotak merah itu akan memunggungi saya. si burung besi akan mengantarnya kembali ke kandangnya. untuk berapa lama? entah. mungkin setahun, bisa jadi dua tahun, atau tiga tahun, bahkan empat tahun. bisa lebih. tidak tahu pasti. tak apa. jarak 5768 km tak akan menggerus rasa bahagia ini kok.

tapi tadi saya tak menangis. iya, tak ada butiran bening yang mengalir dari sudut mata. saya melihat lambaian di sudut antena VI di radio dalam itu. tapi saya tak bisa menangis. saya tersenyum. tahu kenapa? karena saya yakin saya akan menjumpainya kembali tak lama lagi.

saya masih ingat percakapan kami, minggu lalu. gelap membikin kami semakin melarut dalam canda dan hangat. 

“bulan empat ah aku ke sana. mmm … atau, bulan sembilan aja ya aku datang!” kata saya.

“boleh … boleh kapan saja … bulan sembilan juga boleh …” jawabnya.

“lho, kok bilang begitu sih?” tanya saya, menggugat.

“harusnya bilang bagaimana?” sergahnya, cepat.

“harusnya kamu bilang, ‘bulan empat ajaaaaa … kok bulan sembilan sih? kelamaan. bulan empat ya!’ gitu hun …” jawab saya. dan kami terbahak.

siang tadi, gurauan kami masih mendebatkan soal bulan empat dan bulan sembilan. “bagaimana kalau bulan dua saja?” tanyanya, seolah menantang. ah, maaf, kali ini saya tidak bisa menerima tantangan ini.

saya cukup mendekap bahagia ini. apapun yang terjadi besok pagi, harapan itu tetap tinggi kok. lebih tinggi dari gedung tertinggi di Jakarta. mimpi itu masih ada di sana. lebih indah dari kenyataan, pastinya. tapi tak apa. saya bahagia. bersamanya. disampingnya. meski cuma sebentar, dia sudah meninggalkan jejak disini. iya, jejaknya tetap tinggal, yaitu rasa bahagia yang amat sangat.

(ps: Tuhan, terima kasih ya untuk semuanya! kalau memang cinta itu indah, tunjukkan cinta yang indah itu melalui dia. dan, jangan ambil rasa bahagia ini ya.)

Written by femi adi soempeno

January 8, 2008 at 4:28 pm