The red femi

Posts Tagged ‘panti rapih

belimbing dan kenangan dengan ayah

leave a comment »

jantung saya terasa mau berhenti saat mendapatkan sekeranjang buah dari teman. Belimbing. Ya, belimbing. Bukan belimbing wuluh, tetapi belimbing bintang.

Belimbing selalu mendekatkan saya pada ingatan akan ayah.

Sejak kepindahan kami sekeluarga 20 tahun silam ke Bumijo, ada pohon yang selalu dirawat dengan baik oleh ayah, yaitu belimbing bintang. Pohon ini ada di ‘rumah kecil’, begitu kami biasa menyebut. Pohon ini dulunya kecil, bahkan saya tak pernah mengira akan berbuah manis hingga ayah tutup usia, dua tahun silam.

Ayah rajin merawatnya, memberinya ruang untuk mengokohkan akar. Hingga batangnya mengeras, dedaunan merindang dan membikin pelataran kecil di rumah kecil menjadi teduh. Sesekali, batang pohon belimbing menjadi latar belakang untuk acara potret keluarga.

Belimbing berbuah. Ayah tak pernah sanggup untuk memetiknya sendiri. Dan ayah membikin ‘sengget’ alias bilah bambu panjang dengan pisau di bagian ujung untuk memotong buah belimbing yang matang agar terjatuh dan bisa ditangkap dengan tangan. Selebihnya, ayah juga yang paling rajin memungut belimbing yang berjatuhan, membersihkannya, dan mengiriskannya untuk kami.

Bunga pohon belimbing kecil, dan sangat mengotori pelataran. Dedaunan yang kuning dan mengering usai musim panen belimbing, tak kurangnya membuat ayah bekerja lebih giat agar pelataran tetap terlihat bersih. Dan ayah tak pernah mengeluh.

Belimbing yang ada di tangan saya ini selalu mengingatkan saya pada ayah. Yang setia pada semua tanamannya. Yang mencintai tanamannya. Yang merawat kehidupan untuk semua tetumbuhannya. Termasuk belimbing. Ulat dalam belimbing yang membusuk disingkirkannya agar kami bisa tetap makan buah belimbing dari kebun sendiri. ayah selalu mengiriskan untuk kami.

Ayah pergi, belimbing pun mati. Bulik tidak seperti ayah. Dia benci tanaman. Semua tanaman ayah dimusnahkan, termasuk belimbing.

Semoga ayah tidak marah ya.

Written by femi adi soempeno

September 21, 2008 at 9:48 am

akhirnya opname juga

leave a comment »

Selembar kertas putih hasil laboratorium sudah memastikan, bahwa saya positif tipes dengan hasil cek imuno 6 alias indikasi kuat infeksi typhoid aktif.

“Mau opname di rumah sakit atau rawat jalan?” tanya internis rumah sakit Panti Rapih, dokter Sidharto. Ada opsi rawat jalan, ya saya memilih untuk rawat jalan.

Usai mengantongi tiga jenis obat, saya belanja asupan sehat. Mulai dari susu beruang, pocari sweat, UC 1000, ayam kampung dan sayuran segar. Saya siap merawat diri saya sendiri di rumah. Konon, penyakit tipes ini hanya butuh istirahat yang sangat istirahat. Pendeknya, ya menjadi pemalas di rumah.

Tapi hitungan saya meleset. Saya bukannya membaik, malah semakin terkapar selama semalaman mencoba rawat jalan. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengerahkan sejumlah teman dekat untuk membantu saya. *thanks untuk yani dan joko*

“Suster, saya minta makan,” kata saya pada suster perawat di ruang transit, usai jarum infus menusuk tangan kiri saya. Dan yani uring-uringan. “Ih, malu-maluin!” lhah, tapi bener. Saya sungguh kelaparan sejak saya memberikan rebusan ayam dan nasi lembek pada bulik, dan penjual gudeg terbalik menyodorkan nasi putih dengan gudeg, pada yani.

Ah, akhirnya saya opname juga, di ruang Carolus 5, kamar 512. Ini pertama kalinya saya opname.

Terima kasih untuk kerabat yang menemani saya selama terkapar di rumah sakit. Paimun, yang dua malam menghabiskan malamnya di ranjang sebelah. Kunto yang membelikan ekstrak cacing dan menjemput saya untuk pulang. Juga kunjungan dari kerabat Galangpress, keluarganya yani, keluarganya mbak ika, keluarganya Lia dan (akhirnya ketahuan juga) kakak-kakak saya.

Terima kasih.

Written by femi adi soempeno

September 19, 2008 at 5:12 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

medika permata hijau, owh, shoot!

leave a comment »

Pertolongan pertama yang paling dekat dari tempat saya tinggal dan berkantor di bilangan Slipi-Kebayoran Lama adalah rumah sakit Medika Permata Hijau (MPH).

Panas tinggi dan keringat dingin tak menentu selama tiga malam, menyurung saya untuk memeriksakan darah di laboratorium MPH. Demam berdarah dan tipes. Juga, sekalian beberapa cek yang lain seperti gula darah sewaktu, kolesterol, SGPT SGOT. Hasilnya, semua normal. Bahkan demam berdarah dan tipes nya negatif.

Tapi, kedinginan dengan panas tinggi pada pukul 14.00 di Jakarta adalah tidak wajar. Saya menyambangi kembali MPH dan bertemu dengan seorang internis. Saya membawa serta hasil laborat yang baru saya ambil dua jam sebelumnya.

Perbincangan dimulai. Nyatanya, keluhan saya diabaikan. Sebaliknya, si internis justru berceloteh tentang lakunya koran yang kami produksi dan ekonomi yang menyesakkan di negeri ini. ujung-ujungnya, si internis ini bilang, sembari melihat hasil laborat saya, “Kamu pasti demam berdarah itu. muka kamu saja sudah merah begitu. Pelan-pelan, nanti trombositnya pasti akan turun dan haemoglobinnya pasti juga akan drop. Rawat inap ya, langsung masuk …”

Owh, shoot.

Kebetulan, keesokan paginya, masih ada urusan penting yang harus saya bereskan. “Kasih saja saya pengantar rawat inap dan obat, tapi saya tidak bisa masuk sekarang,” jawab saya. I need second opinion. Bagaimana mungkin hasil lab yang negatif untuk demam berdarah, tapi si internis sudah memastikan saya demam berdarah. Apalagi, si internis tak memperhatikan keluhan saya.

Dan saya pulang dengan sejuta sumpah serapah dan tanda tanya di benak tentang rumah sakit MPH ini.

Esoknya, saya kembali cek darah di rumah sakit Panti Rapih di Jogja. Hasilnya, saya positif tipes dengan hasil cek imuno 6 alias indikasi kuat infeksi typhoid aktif.

Written by femi adi soempeno

September 13, 2008 at 5:07 am

enggan sembuh

with one comment

sudah sejak seminggu yang lalu saya mendaftar di rumah sakit pantirapih.

saya memeriksakan tangan saya pada dokter syaraf. sakit sekali. masih sakit. pergelangan tangan kanan, persis di urat sebelah pojok. ini masih rentetan kesakitan akibat ditabrak orang, april lalu.

“fisioterapi ya …” kata dokter joko. ah. apa pula ini. panjang sekali mejanya. ditabrak, rontgen, urut, dan sekarang fisioterapi.

sesekali sakit itu datang.

saat bangun pagi. saat menyangga tubuh. saat memeras cucian. saat menarikan sothil diatas wajan. saat membuka selai strawberry.

mungkin tak akan sembuh. bahkan, tak bisa sembuh.

Written by femi adi soempeno

August 2, 2008 at 11:08 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,