The red femi

Posts Tagged ‘Pemilik Hidup

menjadi 28 tahun

with 2 comments

ada yang tak berubah setahun belakangan ini.

banyak, banyak sekali. potret diri sepertinya sama saja. kubikel tetap saja berantakan. buku kian menggudang di kos-kosan. hunian mungil di palmerah semakin jarang ditinggali. alarm pukul 06.00 pagi tak juga membikin saya bergegas. pukul 22.00 tak mampu memaksa saya untuk pulang dan istirahat.

toh, usia 27 harus saya syukuri sebagai usia yang penuh berkat.

tahun lalu, memasuki usia 27 tahun, saya membubuhkan keinginan dan doa kecil di halaman putih ini. saya ingin menjadi pensil. tapi saya harus menyadari, nyatanya tak mudah menjadi pensil. rasa sakit setiap kali diraut, membuat saya kian runcing, kian terasah menjadi pensil tajam. tapi, saya juga meninggalkan remah-remah dari pensil yang diraut: kekeliruan kecil maupun kesalahan yang menjejak. aih.

dan saya tahu. Dia terus meraut saya untuk menjadi pensil yang lebih baik, lebih runcing, lebih tajam. saya harus belajar banyak. saya harus kian mengasah diri.

Dia memberikan saya banyak hal saat memasuki usia 28 tahun.

pekerjaan yang bagus. talenta menulis yang kian terasah. perjumpaan dengan teman-teman baru yang menyenangkan. berjejalin lagi dengan teman-teman lama yang hilang ditelan kesibukan. menyambangi eropa. menyusun rencana kecil untuk tahun 2008. bersepeda kembali setelah meninggalkan gowesan itu dua belas tahun silam. meriung di kubikel pojok. kesehatan yang lebih terawat. terima kasih.

makan mie di gang mangga bersama chris dan congli, menumbuhkan harapan kecil: semoga senantiasa bahagia dan panjang umur. cheesacake dari congli, tiramisu dari hendra, dan guyuran air serta jabat hangat dari kerabat, juga sebuah doa kecil. terima kasih. kalian begitu baik.

femi. perempuan. lajang. 28 tahun. weekday di jakarta dan weekend di jogja. menulis. saya mencoba mendefinisikan diri saat usia kian menua. tapi sama saja. tak ada yang berubah. tetap menulis. tetap ke jogja di ujung minggu. tetap bekerja di jakarta.  

mas heri, teman dari jogja yang kini bekerja di semarang, pernah membagi cerita tentang katak tuli.

Pada suatu hari ada segerombol katak-katak kecil yang menggelar lomba lari. Tujuannya adalah mencapai puncak sebuah menara yang sangat tinggi. Penonton berkumpul bersama  mengelilingi menara untuk menyaksikan  perlombaan dan memberi semangat kepada para peserta. Perlombaan dimulai…
 
Secara jujur: Tak satupun penonton benar2 percaya bahwa katak2 kecil akan bisa mencapai puncak menara. Terdengar suara: “Oh, jalannya terlalu sulitttt!! Mereka  TIDAK AKAN PERNAH sampai ke puncak.” atau: “Tidak ada kesempatan untuk berhasil…Menaranya terlalu tinggi…!!

Katak2 kecil mulai berjatuhan. Satu persatu, kecuali mereka  yang tetap semangat menaiki menara perlahan- lahan semakin tinggi…dan semakin tinggi.. Penonton terus bersorak
“Terlalu sulit!!! Tak seorangpun akan berhasil!”

Lebih banyak lagi katak kecil lelah dan menyerah..Tapi ada  SATU yang melanjutkan hingga semakin tinggi dan tinggi. Dia tak akan menyerah!

Akhirnya yang lain telah menyerah untuk menaiki menara. Kecuali  satu katak kecil yang telah berusaha keras  menjadi  satu-satunya yang berhasil mencapai puncak! SEMUA katak kecil yang lain ingin tahu bagaimana katak ini bisa melakukannya?

Seorang peserta bertanya bagaimana cara katak yang berhasil menemukan kekuatan untuk mencapai tujuan? Ternyata, katak yang menjadi pemenang itu TULI!!!!

cerita katak ini ingin mengajarkan agar kita jangan pernah mendengar orang lain yang mempunyai kecenderungan berpikir negatif ataupun pesimis karena mereka mengambil sebagian besar mimpi kita dan menjauhkannya dari kita. karena itu tetaplah selalu berpikir positif.  dan yang terpenting, berlakulah TULI jika orang berkata kepada kita bahwa kita tidak bisa menggapai cita-cita maupun menyelesaikan semua pekerjaan kita.

selalu berpikirlah: I can do this!

iya. saya tahu, menjadi 28 tahun juga bukanlah perkara mudah. membutuhkan lebih banyak kedewasaan. lebih banyak kebijaksanaan. melihat dari atas dan dari jauh, bukan dari samping kanan-kiri saja. harus bisa memilih dan memilah yang terbaik.

hubungan pertemanan yang meruwet dan kisah cinta yang kocar-kacir, saya yakin, saya akan bisa membereskannya di usia ini. setidaknya, menjelaskan pada diri sendiri soal keruwetan dan kekocar-kaciran ini. I can do this.

dan saya harus menyiapkan diri untuk memasuki usia 29 tahun.

Written by femi adi soempeno

April 4, 2008 at 12:29 am

hujan dan segudang ingatan

with one comment

hujan mengingatkan saya pada banyak hal.

pada roda sepeda mountain bike warna oranye saat berseragam biru-putih saat menembus hujan selepas sekolah. pada jejak kaki yang harus terus berlari agar tak kedinginan, berlarian menuju kaki merapi dengan seragam THS-THM. pada langkah yang sangat hati-hati ketika air mulai naik melebihi mata kaki. pada jendela di sebelah kubikel. pada perjalanan panjang prambanan-amplas-rumah dengan kelok jalanan yang tak rata. pada beberapa botol bir dan wine yang habis diteguk ditengah rintik ritmis di pinggir pantai kuta. pada wanti-wanti terhadap ayah agar tak perlu keluar saat hujan menderas. pada reriungan kecil dengan beberapa sahabat.

seperti lagu Karimata di album Jezz yang dibsesut Aminoto Kosin & Mira Lesmana feat. Phill Perry & Lee Ritenour.

Each time I see those thick dark clouds
I used to smile and make a wish
That it will turn (turn to) rain
Because I know that I would watch
For you to play under the rain

But now that rainy days are here
I feel so blue cause I can’t hear all your laughter
In the falling rain..
And it brings sadness to my heart
Knowing that you’ve gone from my side…
My side…

Seems that rainy days and you make a symphony
The rain without you makes me blue
Happy days I knew will only be right here to stay
When the rainy day brings me back
Brings me back into your arm..
Your arm…

saya suka hujan. air yang jatuh merintik kecil, tak membuat saya sakit. sebaliknya, rasa dingin yang menyelusup ke tulang, membawa saya pada romantisme masa kecil, juga seribu satu kenangan yang hilang dimakan srengenge kemarin. tapi, hujan kemarin sore dengan kehangatan yang tiba-tiba datang, tak bisa kembali kan?

hujan membuat saya merindu.

Written by femi adi soempeno

March 23, 2008 at 10:00 am

Posted in Uncategorized

Tagged with ,

done, again

leave a comment »

Sebuah sejarah telah diguratkan oleh sejumlah pejabat di negeri ini, satu dasawarsa silam. Mereka yang saat itu disebut-sebut sebagai anak emas Soeharto, mendadak dituding sebagai orang-orang yang berperan menjungkalkan Soeharto. Iya, anak-anak itu telah ‘membunuh’ bapaknya sendiri.

Direncanakan atau tidak, surungan agar Soeharto mundur dari kursi RI-1 telah mereka lakukan. Mulai dari Harmoko yang menggelar sidang terbatas dengan para pemimpin fraksi di Senayan dan bersepakat, “… demi persatuan dan kesatuan bangsa, agar Presiden secara arif dan bijaksana sebaiknya mengundurkan diri.” Sekonyong-konyong, sebuah batu besar ditimpakan Soeharto oleh ‘Si Bung’, anak emas yang sebelumnya senantiasa menuruti petunjuknya.

Belum selesai satu perkara, perkara lain muncul. Yaitu, mundurnya empat belas orang mentri yang berada dibawah koordinasi anak emasnya yang lain, yaitu Ginandjar Kartasasmita. Padahal, semalam sebelumnya Ginandjar ikut membantu Soeharto menyusun orang-orang yang bakal didudukkan dalam kabinet yang anyar.

Hingga akhirnya pada pemakaman Soeharto 28 Januari 2008 silam, tak urung Ginandjar berujar, “Saya bilang kepada Mbak Tutut, maafkan saya, kalau peristiwa itu dianggap sebagai dosa atau kesalahan.” Ia mengimbuhkan, ia meminta maaf juga lantaran berbeda pandangan dengan Pak Harto sesaat sebelum reformasi.

Anak emas Soeharto yang dituding mengkhianati keluarga Cendana adalah Prabowo Subianto. Malam itu, Soeharto sedang duduk bersama Wiranto dan putra-putri Cendana. Prabowo dianggap pecundang di depan keluarga istrinya. Yang pertama berdiri adalah putri bungsu Suharto, Mamiek. “Mamiek melihat saya, kemudian menudingkan jarinya seinci dari hidung saya dan berkata: “Kamu pengkhianat!” Dan kemudian “Jangan injak kakimu di rumah saya lagi!” Jadi, saya keluar. Saya menunggu. Saya ingin masuk. Saya katakan saya butuh penjelasan. Istri saya menangis.” Setelah itu, Prabowo pulang.

Belum lagi Habibie yang diharapkan juga ikut lengser saat Soeharto lengser, nyatanya pasrah menerima sampur untuk melanjutkan pemerintahan Soeharto. Ketidaksukaan Soeharto terhadap sikap Habibie ini tercermin dari sikap Soeharto pada 21 Mei 1998. Habibie bercerita, “Namun, baru saja saya berada di depan pintu ruang Jepara, tiba-tiba pintu terbuka dan protokol mengumumkan bahwa Presiden Republik Indonesia memasuki ruang upacara. Saya tercengang melihat Pak Harto, melewati saya terus melangkah ke ruang upacara dan melecehkan keberadaan saya di depan semua yang hadir.”

Siapapun itu, orang-orang yang pernah sangat dekat dengan Soeharto pada masa kejayaannya, harus ditendang dari lingkaran Cendana. Suka atau tidak suka, itulah yang terjadi pada Habibie, Harmoko, Prabowo maupun Ginandjar. Bahkan, ABRI dan Golkar yang selama tiga dasawarsa menjadi kendaraan Soeharto, juga ikut diasingkan oleh The Smiling General itu.

Dengan tudingan jari telunjuk berjarak seinci dari wajah, dengan surat pengunduran diri para menteri, dengan himbauan untuk mengundurkan diri, semoga saja Indonesia bisa belajar dari sejarah bangsanya yang ditulis dengan cerita-cerita tentang pengkhianatan. Sungguh, sejarah senantiasa berulang.

Salam hangat,

Femi Adi Soempeno

(Ps: terima kasih ya, kalian sungguh baik. energi ini tak ada habisnya untuk mencatatkan diri sebagai penulis, dan kian menggurat sebagai penulis. it is done, again.)

Written by femi adi soempeno

February 12, 2008 at 12:17 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

tak putus-putusnya bersemangat

with one comment

apa yang lebih indah dari gelak tawa dan pelukan hangat, serta buncah rindu dan keringat kebahagiaan?

tak ada. mereka adalah semangat. iya. gelak tawa, pelukan hangat, buncah rindu dan keringat kebahagiaan adalah semangat. tahun depan, 2008, saya ingin terus bersemangat. iya, tetap bersemangat. kata kuncinya satu kok: semangat. itu saja.

lihat, hutang-hutang tulisan masih banyak. segudang rencana plesiran juga masih tertunda. kecupan hangat di pipi, juga masih terhitung sebagai hutang piutang. 🙂 semuanya harus dibayar di tahun 2008. lunas.

menulis, dan terus menulis.

menabung rindu, dan memecahnya di ujung tahun 2008.

itu saja. saya tak boleh memutuskan rantai semangat ini. iya, terus semangat, femi!

Written by femi adi soempeno

January 1, 2008 at 12:29 am

2007: kubangan-kubangan kegembiraan

with 3 comments

Tuhan, terima kasih. tahun 2007 sungguh meninggalkan kubangan yang bekasnya sangat berarti buat saya.

iya, tahun ini Dia membikinkan banyak kubangan kebahagiaan buat saya. tahun ini dibuka dengan munculnya buku yang saya bikin bersama kunto. ini bukan debut pertama membikin buku. sejumlah buku lainnya, melambai pelan pada buku yang ini: mengucapkan selamat datang pada buku ketujuh. lihat, poster besar terpasang di pinggir-pinggir jalan. potret wiranto dan prabowo ikut melambai ke arah saya.

terima kasih, kalian membikin saya menjadi lebih berarti. mas julius, kunto, fitri, ika, ijub, pras, andong, niken, mbak ida, mas nug, … masih banyak lagi. reriungan di pojokan kawasan tarumartani di jogja membikin tangan-tangan ini bekerja sesuai peruntukannya. menulis. menarikan jemari di keyboard komputer. menjejerkan aksara menjadi sebuah kata. sebuah kalimat pun meluruh perlahan. “ayah, ibu, buku ini buat kalian!” bisik saya pada ayah dan ibu, usai mendaraskan doa untuk mereka.

lll.jpgkubangan kebahagiaan lain juga datang di pertengahan tahun. perjumpaan dengan teman-teman baru dari belahan benua lain tak urung menambah daftar panjang sunggingan senyum di sepanjang 2007. kendati, saya harus membatalkan rencana untuk plesiran mengunjungi esti. tak apalah. kegelian, kemarahan, pelukan hangat, senyum ceria, tawa gembira, rasa sebal, muncul dari iranische strasse di berlin.

terima kasih, rasa penyesalan ini tak akan pernah muncul dari perjumpaan yang singkat itu. kunjungan singkat ke pabrik vw di hannover, mengintip frankfurt bourse, taruhan makan kaki babi di koln, mandi matahari di berlin … bahkan, potret kalian masih saya pajang di meja kubikel, di ipod, di komputer, di … saya berharap, bisa menjumpai kalian lagi kelak. olu, doris, jeevan, khan, judy, samuel, marian, dorah, angela, faraja, ibrahim, hans, holger, carsten, melanie, elke … dan masih banyak lagi.

kubangan kebahagiaan lain datang dari kubikel saya. humh. apa ya namanya. lulus magang. iya, lulus magang menjadi penulis. aih. menjadi penulis mah sudah dari dulu! tapi yang ini, penulis di pabrik kata-kata ini. kubikelnya sih masih sama. masih penuh dengan kertas dan penugasan, juga notes dan pulpen yang berserakan. bedanya, … mm … bedanya apa ya? ah, tak ada bedanya kok! saya tetap menulis. saya tetap menjadi buruh di pabrik kata-kata ini. tapi jelasnya, kartu tarot milik shanty sudah menegaskan status ini. horeee!

kubangan-kubangan lain dibikin Dia untuk saya. orang begitu banyak yang datang dan pergi. ada yang menggali kubangan, ada juga yang menutupnya. tak apa. saya sudah siap dengan orang yang datang dan pergi begitu saja dalam kehidupan saya.

kehilangan ayah dan ibu, pernah saya lalui. tak ada rasa kehilangan yang melebihi kehilangan orang tua, bukan? dus, kehilangan teman terdekat yang menjadi pasangan meriung bertahun-tahun, bukanlah hal yang terlalu sulit. hendra, novi, deon. memang, saya tetap harus melaluinya dengan proses. rasa kesal yang bertumpuk. merasa dibohongi. ditelikung. humh. apa lagi ya?

tapi bukan femi kan kalau menyerah begitu saja? kubangan kesedihan ini Dia sulap menjadi kubangan-kubangan kegembiraan yang berlipat-lipat. orang-orang baru. teman-teman baru. reriungan baru. Dia mengambil satu teman baik saya, tapi Dia juga menggantinya dengan puluhan, bahkan ratusan teman yang baru. thomas, shanty, mario, teman-teman sepeda lipat id-foldingbike … dan masih banyak lagi.

terima kasih ya, atas jejalin yang tak putus-putusnya yang Kamu berikan untuk saya. saya harus mensyukurinya.

kubangan kegembiraan juga datang di ujung tahun. lelaki berpjamas kotak-kotak datang kembali. membungkus hatinya yang sudah lumer terpanggang rasa rindu yang menahun. kami berharap bisa beringsut pelan, berbarengan (kembali) memulas birunya awan dengan kelopak tawa dan butiran bening bahagia.

tahun depan?

semoga ada begitu banyak kubangan yang Dia tinggalkan untuk saya. apapun itu.

Written by femi adi soempeno

December 31, 2007 at 3:27 am

maaf, saya harus mengatakan tidak

with 2 comments

saya tahu, Tuhan selalu punya rencana yang indah buat saya.

semuanya sudah saya sadari sejak bibir atas ayah dan ibu tertarik keatas. mereka tersenyum saat tahu saya harus keluar dari sekolah di muntilan. “semuanya nanti pasti ada hikmahnya,” katanya. dan benar. rencana-rencana atau hikmah itu menyembul belakangan. agaknya, mereka bersembunyi hingga saatnya tiba. hingga saya menggumam sendiri, “o, ini ya rencana Dia.”

sekolah di Jogja, saya jadi punya kesempatan menabung lebih banyak tulisan di Gema. lebih dari sekadar mengkliping tulisan tiap minggu, saya boleh mencuri ilmu dari mas AWD, yusran pare, yupratomo dan masih banyak lagi. ini adalah celengan yang kemudian saya tukar dengan tiket emas kuliah di atmajaya: gratis. iya. tulisan ini yang membikin saya bisa mengenakan jubah almamater kuning kalem atmajaya.

kampus ini yang juga menyurung saya bekerja dan mengeruk sedalam mungkin pengalaman sebagai mahasiswa: kuliah, kerja paruh waktu, mulai membangun jaringan, berantem, mencemati pekerjaan wartawan, membikin buku, berjejaring dengan teman-teman. hingga saya mendamparkan diri di kantor ini.

pun ibu yang tak pernah berhenti berdoa dan tak putus-putusnya memecut semangat. juga esti yang menjadi ‘ibu baru’ di keluarga saat usia saya mengancik 21 tahun. sokongan ayah yang membikin langkah kaki tak terhenti di jogja. perburuan pengalaman berlanjut ke ibukota.

perjumpaan dengan begitu banyak teman baru dan kekagetan kota baru membikin saya menggebuk diri sendiri. terus bersemangat. hey, ini pekerjaan yang saya impikan. bolak-balik jakarta-jogja-jakarta. merawat ayah. meramu buku. plesiran ke jerman. hingga membikin sejumlah kompromi dengan esti yang terpisah jauh dan saling hidup sebatang kara.

tetap saja, ada yang mencibir apa yang saya dapatkan. iya. kalian mencibiri saya. kenapa? hey, tak tahukan bahwa ini adalah rencana Dia?

tak henti-hentinya saya berhenti bersyukur. saya belum cukup beruntung mendapatkan tiket gratis ke amerika atau inggris untuk merealisasikan mimpi: sekolah. kelulusan magang yang lebih cepat dari yang saya duga, kebaikan orang-orang di sekeliling saya, sokongan teman-teman baik dan kerabat dekat, kesempatan liburan ke eropa, perjumpaan kecil dengan teman-teman di belahan dunia lain, adalah juga rencanaNya.

tapi, cibiran itu tetap membuntuti saya. mungkin cemburu. mungkin rasa tidak suka. mungkin merasa kalian lebih mampu. mungkin merasa kalian yang lebih pantas. tapi, ini kan juga karena Dia. humh. kenapa kalian tidak bisa bersyukur atas apa yang kalian dapatkan dari Dia. Dia juga punya rencana buat kalian. rencanaNya untuk saya dan kalian itu tidak sama.

saya menulis di halaman putih. mencetaknya. melipatnya. memasukkannya dalam amplop dan menutupnya rapat-rapat. saya mencemplungkannya dalam kotak surat berwarna oranye di pinggir jalan. humm. mereka meminta saya untuk menulis dan mencatat kalian. tapi maaf, saya lebih tahu kalian daripada mereka. dan saya katakan: tidak.

Written by femi adi soempeno

December 13, 2007 at 12:13 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , ,

tidak ada yang menunggu saya di rumah

with 5 comments

entah, belakangan saya menjadi sangat sensitif.

tapi, sebenarnya bukan ‘belakangan’ yang hanya terbvilang satu atau dua minggu saja. bahkan, sudah lebih dari tiga tahun ini saya menjadi sangat perasa, sensitif, peka, mudah tersinggung. itu yang bikin saya mudah menangis meski saya tak sesungguhnya cengeng.

semalam, sahabat baik bercengkerama dengan saya di ruang maya. perbedaan waktu 5 jam membikin kami sering keruwetan memilih jam perjumpaan. disana, mungkin segelas susu hangat menemani obrolan kami. tapi, bisa jadi juga salad. entah. sementara saya disini punya beberapa pilihan menu. cokelat hangat, susu beruang, atau teh hijau panas. pilihan lainnya? ini, seperti sembari sarapan pagi begini.

saya tak ingin menyebutnya pertengkaran. saya hanya ingin menyebutnya sebagai sebuah ego diri saja. iya, ego saya yang terlalu besar. pembicaraan kami adalah soal pekerjaan, kantor, jam kerja dan kebiasaan. tapi ia melihatnya lain: kecanduan akan pekerjaan ini tak akan bisa hilang. uwh, rasanya seperti ada yang melempar linggis ke kubikel saya. sepertinya ada yang menghujani saya dengan ribuan palu yang memberantakkan isi kubikel saya.  

saya, femi, perempuan, 27 tahun, wartawan, penulis.

saya memang suka menulis sejak usia 12 tahun. barangkali, ini sebabnya saya mencandui aktivitas ini. alasan lainnya, karena Dia memberi kemampuan saya untuk menulis. saya menulis agar bisa ‘menjadi femi’. ambisi pangkat dan status yang cepat meyodok? tidak juga. saya dan teman-teman lain di pabrik kata-kata ini menempul rel yang sama. ambisi menimbun penghasilan yang lebih besar? tidak juga. pendapatan saya fixed, berapapun jumlah tulisan saya. itu sebabnya, saya mebnulis agar bisa ‘menjadi femi’. 

saya sampai kebingungan memilih kata-kata untuk menjelaskan mengapa saya datang ke kantor malam hari, bahkan hingga larut atau bahkan menginap di kantor. 

tahu sendiri, saya disini hidup sendiri. esti, kakak saya ada di US. tidak ada lagi orang tua di rumah. famili juga tak banyak yang dekat. sementara, saya mengandalkan hubungan baik dengan teman-teman yang sudah saya anggap saudara sendiri. kalau sudah begini, saya harus apa? tinggal dirumah sepanjang hari? sesiang di rumah, bersihin kamar, tidur nyuci pakaian. sore saat bola raksasa sudah bersembunyi, apa saya tak boleh ke kantor, cari makan dan browsing untuk bahan tulisan? 

bahkan, tidak ada yang menunggu saya di rumah. tidak ada orang yang harus saya layani kecuali diri saya sendiri. dulu saya punya ayah yang harus saya jumpai setiap minggu. dan begitu banyak orang bertanya, “kamu apa enggak capek ke jogja setiap minggu?” saya bosan dengan pertanyaan itu. orang-orang ga tahu betapa saya menyayangi ayahku. saya berusuaha membagi hari untuk bekerja dan pulang ke rumah. kenapa? karena ada ayah yang juga selalu menunggu saya di rumah!!!!!!  

sekarang saya punya siapa? tidak ada. tidak ada siapapun di rumah!

meski ayah tidak ada di rumah dan saya masih tetap pulang, orang-orang juga tetap saja bertanya tanpa bosannya; “kamu nggak capek ya ke jogja setiap minggu? kamu itu pulang buat siapa sih? kan ga ada orang di rumah.”  hampir satu setengah tahun ini, saya juga semakin bosan dengan pertanyaan itu. orang-orang yang bertanya itu bisa bertanya begitu karena ada keluarga yang menunggu mereka saat pulang kantor, bahkan weekend. juga, ada orang yang harus mereka layani di rumah. saya? nggak ada! hanya ayah dan ibu yang menunggu saya di makam untuk mendaraskan doa buat mereka. 

saya rindu makan bareng dengan keluarga. saya rindu bikinin teh atau kopi susu buat ayah. saya rindu pulang dan bercengkerama dengan keluarga. saya juga rindu punya pacar untuk aku bisa berbagi. tapi saya punya apa? nggak punya! 

tiga tahun terakhir saya memampatkan kerjaan agar bisa pulang di ujung minggu untuk ayah. saya pulang larut, bahkan tidak pulang, hanya demi pekerjaan yang usai sebelum deadline tiba. apa saya mengejar status? tidak. gaji tinggi? tidak. semuanya saya lakukan agar bisa mencuri waktu untuk pulang. pulang. p-u-l-a-n-g. 

dan itu belum berubah hingga saat ini. saya membereskan pekerjaan hari senin-selasa-rabu. saya juga masih memilih untuk tidur di kantor atau bekerja hingga larut. mengapa? karena tidak ada yang menunggu saya di kos-kosan. karena saya ingin segera pulang ke rumah jogja. karena saya ingin membikin buku. 

saya sendiri memang addicted dengan pekerjaan ini. soalnya, saya menyukai pekerjaan ini. tapi saya tidak pernah melupakan kodrat sebagai perempuan yang tetap harus melayani suami dan anak kelak. aku sudha menguji diri sendiri untuk menyambangi ayah dulu, sebagai bentuk tanggung jawab anak pada orang tua. saya rasa, hasilnya tidak menegcewakan. saya bahkan bisa menggaransi diriku sendiri, saya tidak akan melalaikan tanggung jawabku sebagai istri bahkan ibu kelak. 

saya sangat sedih saat teman saya bilang, “ga jamin tuch, karena udah adicted itu malah ga bisa hilangin.” dia, bahkan kalian, memang berhak bilang begitu. dia, bahkan siapapun juga, boleh bilang begitu. tapi yang tahu tentang gaya pekerjaan saya, adalah saya, bukan? memangnya kalian pernah menguji saya bahwa aku tidak bisa menghilangkan kecanduan terhadap pekerjaan? enggak pernah. kalian nggak pernah tahu bagaimana saya pernah mengalahkan kecanduan ini untuk ayah saya. 

saya juga sedih saat teman saya bilang, “mat kerja dan kumpulin duitnya ya..buat liburan di Bali nanti”. kalau begitu, saya memilih untuk enggak berlibur ke Bali nanti. buat apa liburan ke Bali dengannya kalau saya tetap terlihat ambisius banget ngumpulin duit biar bisa berjumpa dengannya dan liburan disana. anggap saja saya gagal mengumpulkan duit sehingga tak bisa liburan dengannya.

saya menangis.

bisa ya dia bilang begitu. sepertinya dia melihat saya bekerja hingga larut ini mendapat bonus tambahan yang bisa saya timbun untuk liburan ke Bali. padahal, enggak ada tu bonus lemburan segala macam sehingga bisa mendongkrak pendapatan dan bisa saya gunakan untuk berlibur. saya memang ga punya banyak duit untuk liburan lama. tapi saya harus bersyukur bahwa saya masih punya gaji tanpa harus cari tambalan kanan kiri demi berlibur ke Bali nanti. 

sungguh, kali ini ego yang bicara. saya tidak marah. saya hanya sedih aja chat dengannya semalam.

dan saya tahu persis, teman saya ini bukan ayah saya yang tahu banyak hal tentang saya. dia hanya teman yang tengah belajar menuduh saya.  

Written by femi adi soempeno

November 19, 2007 at 12:28 am