The red femi

Posts Tagged ‘pulang

sudah habis

with 2 comments

entah, tiba-tiba saja saya ingin mencermati surat ijin mengemudi saya. sim.

barangkali perjumpaan dengan romo koen tempo hari membikin saya ingin melihat kembali tulisan yang menderet di sim saya.

ah, ternyata benar. sim saya sudah habis. habisnya sejak april lalu. shoot.

disana tertera, berlaku sampai dengan 4 april 2008. iya, sim itu saya bikin lima tahun silam.  saya ingat betul, saat itu saya baru masuk pabrik kata-kata ini, dan sim saya sudah habis pula. esti, kakak saya, memburu saya agar membereskan surat-surat macam begitu. juga, ktp nya.

lucunya.

padahal beberapa waktu lalu bolak-balik ada cegatan yang cukup membikin hati deg-degan. bahkan, bergidik karenanya. iya, jogja memang terbilang garang untuk cegatan kendaraan roda dua. dari jogja ke wonosari saja bisa empat kali razia. dan, mengapa saya berhasil melewatinya dengan sukses? padahal sim saya sudah habis.

saya harus bikin sim baru.

Written by femi adi soempeno

July 22, 2008 at 4:57 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

calo tiket kereta api

with 4 comments

kalau ada pertanyaan, “calo paling banyak ada di mana?” dengan lantang, saya bakal menjawab, “stasiun kereta api!”

sudah jamak diketahui kereta api di indonesia ini calonya segambreng. bahkan, tak jarang muncul cuilan kalimat, “orang dalam ikut main, nggak mungkin kalau enggak ikut main …”

entah benar atau tidak, tapi saya jelas selalu mencibir plakat yang dipasang besar-besar di stasiun kereta api soal calo tiket. bull shit. nyatanya orang-orang masih kehabisan tiket. nyatanya orang-orang bakal dicegat di depan pintu masuk stasiun untuk sebuah tawaran kecil: “tiket? jakarta? di dalam habis …”

dan empat tahun berkereta mengajarkan saya banyak hal.

termasuk calo tiket yang liar.

seperti tawaran tiket di ujung minggu ini. selembar tiket jogja-jakarta kelas ekonomi bisa ditebus dengan ongkos Rp 60.000. shoot. senyatanya, harganya cuma Rp 38.000.

“lha numpak mobil … mosok 60 ewu ra gelem … numpak mobil je lik …” katanya sembari berteriak, saat saya berlalu dari hadapannya. kampret.

bukan perkara naik mobil atau tidak. tetapi, kelebihan Rp 22.000 adalah ongkos yang terlalu mahal. sementara, uang segitu bisa dipakai untuk naik bajaj dari senen ke petamburan Rp 16.000, dari petamburran ke kantor Rp 3.000. beli pecel kecombrang Rp 3.000.  sedap kan.

jadinya saya beli tiket tanpa tempat duduk. toh, dengan kejelian mellihat ‘bakal bangku kosong’ dan pengalaman berkereta 4 tahun membikin saya mendapatkan bangku empuk.

 

Written by femi adi soempeno

July 1, 2008 at 4:55 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

I’m home

with 2 comments

hijau.

kanan dan kiri saya hijau, selepas cikampek. selamat datang pada alam nan indah. kian ke timur, kian indah. jogja membikin saya tersenyum pagi ini.

kereta fajar yang saya tumpangi melaju pesat. ah, rasanya seperti terbang. membelah hijaunya ladang padi dan kebon tebu. jalanan begini selalu mengingatkan pada rumah ayah dan ibu yang baru. I miss u soo much dad, mom …

saya pulang.

mata ingin mengatup sementara terik semakin menyengat. kotak yang bergerak-gerak ini seperti menyediakan tempat tidur yang sangat nyaman: kolong kursi, dengan beralaskan koran. dan saya menggeletak.

penjual pecel membikin saya sabar menanti. sementara sekotak getuk sokaraja dan sekarung lanthing harus saya bungkus lantaran mimik muka si penjual yang kerutannya tebal, tanda sudah cukup tua. seperti mengingatkan saya, betapa saya sangat bersyukur, ayah saya tak harus bekerja ekstra keras hingga ujung usianya.

dad, mom, I’m home.

Written by femi adi soempeno

May 31, 2008 at 11:59 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , , ,

jogja, menjelang pulang

with 4 comments

dua tas punggung sudah ada di bawah. saya bersiap pulang.

saya bakal mengangkut dua buket bunga mawar untuk ayah dan ibu. untuk saya letakkan di depan rumahnya. sembari membasuh halaman depan dan menyingkirkan ilalang nakal.

saya juga bakal membikin roti panggang dan memasangkannya dengan secangkir cokelat hangat. keduanya disantap dengan leyeh-leyeh di kursi malas. duh, rasanya pas. sepertinya ini bakal menjadi weekend yang seru. sementara, saya juga sudah membawa serta beberapa film kartun, film drama dan film dokumenter untuk dijelajahi di ujung minggu.

sungguh, saya tak sabar pulang.

menghirup wanginya bau stasiun kereta api lempuyangan. bersimpuh dan mendaraskan doa untuk ayah dan ibu di rumahnya. berbincang dengan beberapa teman.

balance life.

ada yang mau ikut?

Written by femi adi soempeno

May 23, 2008 at 10:27 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , ,

selalu saja mules

leave a comment »

perut saya sangat sensitif.

seperti semalam, saat saya menunggu esti,  kakak saya, muncul dari pintu kedatangan. perut saya mules. mual. ini adalah penanda kecil stress. uwh. mbakyu datang kok ya stress.

saya tak bisa membayangkan bagaimana bentuknya. bagaimana ukurannya. bagaimana bawelnya. sudah hampir dua tahun kami tak berjumpa. kangen. rimdu. telepon dan ruang maya menjadi ruang celotehan kami. selebihnya, kami menyimpan kerinduan untuk bertemu pada tahun 2009. lha, datang 2008, rimdu dua tahun ini juga sudah menggunung.

jadi saya berlarian ke toilet.

berjumpa dengan esti tahun ini adalah kecelakaan kecil. harusnya masih tahun depan. tahu, apa yang dia bilang? “sama-sama habis banyak, daripada aku liburan ke yerusalem, lebih baik aku ketemu kamu dan menengok bapak ibu …” uwh. ini juga yang saban mengingatnya saya menjadi mual.

Written by femi adi soempeno

April 12, 2008 at 3:52 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , ,

perempuan ketinggalan kereta

leave a comment »

sebenernya sih bukan ketinggalan kereta, tapi kehabisan tiket.

perjalanan liburan paskah sudah di depan mata. dalam waktu yang bersamaan, kyle sakit. duh. rasanya ingin pulang segera. rasanya ingin memasakkan sop panas dan membuatkan secangkir teh hangat buatnya. kyle tidak boleh sakit. 

saya berlarian membereskan pekerjaan mingguan. sementara, redaktur saya sudah mengejar seharian. berganti baju, saya mencoba mengejar antrian kereta. jalanan macet. ah!

bersemangat, saya menaiki tangga stasiun tanah abang dengan berlari. lima antrian di depan saya, mendapatkan tiket terakhir tempat duduk di kereta ekonomi.

saya kehabisan tiket. maafkan saya kyle, semoga masih bisa menunggu.

Written by femi adi soempeno

March 17, 2008 at 11:21 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , , ,

maaf, kereta ini milik kami

with one comment

imlek. libur panjang.

liburan kembali memanggil. tentu saja, pulang ke jogja. memberesi kebun ayah. memangkas daun yang menguning dan batang yang mengering. menjumpai teman-teman lama. belanja. berjejalin dengan lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah melalui udara. aih kenikmatan tiada tara. dan kereta bengawan mengantarkan saya pada kenikmatan sejak tengah minggu hingga ujung minggu ini.

jes jes jes jes …

tiket habis. saya menggelar koran untuk menyandarkan bahu di koridor kereta. ah, semua ingin liburan. semua ingin menderetkan waktunya sejenak di kampung halaman. di dinding gerbong, tercatat: keluarga DRPD Jatibarang, 15-18ABCDE. artinya, ada dua puluh kursi yang dipesan oleh anggota wakil rakyat yang bakal naik dari jatibarang. tujuannya? entah.

tapi kereta penuh. bagaimana mereka nanti bisa masuk. tidak, tidak bisa. dari jatibarang, tak bakalan ada yang bisa masuk. lihat, kereta penuh.

broook broook brooook … dinding gerbong digebuk dari luar. keluarga anggota DPRD itu marah. “Nomer 15-18 harap dikosongkan …” katanya, galak.

“silakan saja masuk kalau bisa. masuk saja. masuk!” seru penumpang dari dalam.

“kami sudah pesan sejak seminggu lalu …” sahut keluarga anggota DPRD itu, masih berbalut kemarahan.

“ya, masuk saja coba. masuk!” jawab penumpang balik.

mana bisa masuk. tersisa sejengkalpun tidak untuk menapak. koridor penuh. semua ingin liburan. semua ingin pulang. kalau memang ingin naik, kenapa tidak naik dari jakarta selagi gerbong kosong.

pak, bu, lain waktu, naiklah dari jakarta ya. atau, beli saja kereta bisnis maupun eksekutif. lebih lega. tak bisa ditantang. bukan keretanya wong cilik.

lihat, saya tak bisa menggerakkan tubuh saya untuk beranjak dari depan bangku nomer 15. maaf ya, kereta ini milik kami.

Written by femi adi soempeno

February 7, 2008 at 5:33 pm