The red femi

Posts Tagged ‘rindu

ah, saya barusan mengintipnya

with 2 comments

saya barusan mengintipnya. tidak. saya takut ini akan menciptakan luka baru. saya buru-buru membereskan perasaan saya. rasanya acara berhangat-hangat cukup sampai disini saja. humh, atau saya yang terlalu trauma?

Written by femi adi soempeno

August 9, 2008 at 8:17 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

ada yang salah

leave a comment »

sepertinya ada yang salah dengan perasaan saya.

ah. perasaan seperti ini datang lagi. berjejingkrakan di halaman hati saya.

seperti ada yang menyelipkan mawar merah di jendela rumah saya. tanpa catatan. tanpa nama pengirim. hanya bunga mawar merah yang berenergi. sarat dengan kasih dan kehangatan. penuh dengan hangat dan bulir rindu.

seperti birunya langit yang enggan disiangi. tetap begitu saja. sesekali mengarakkan putihnya langit. bersih. dingin di ketinggian. langit yang biru siap dipulas dengan beragam cerita.

seperti selalu ingin tersenyum setiap saat. senyum yang menyuplai kegembiraan, keriangan dan siap menghadapi 24 jam sehari. tanpa bayangan letih yang menghantui.

mungkin jatuh cinta. tapi mungkin juga tidak.

Written by femi adi soempeno

August 9, 2008 at 3:13 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

telepon cinta

leave a comment »

sudut mata ini mengerut. ingin rasanya menangis. kali ini bahagia.

perbincangan lebih dari dua jam lewat pesawat telepon merupakan representasi dari tabungan rindu kami yang terpecah. seminggu. menumpuk. tinggi rindunya segunung, bahkan lebih. rindu ini sungguh menguras energi. tapi kerinduan ini memecut hati, kian kuat, kian kokoh, kian membentuk, kian utuh. lewat udara, jarak bermil-mil jauhnya mengantarkan derai tawa kami, dan juga secuil kemanjaan.

langkah kami semakin selaras seirama. kami membutuhkan pengertian. dan, stok pengertian itu selalu ada. pendeknya, kompromi. sungguh, saya bersyukur atas kehadirannya dalam hidup sejak empat tahun belakangan. bahagia ini tidak tanggal. menyenangkan. sabtu pukul 18.00 kian menguatkan apa yang kami mulai sejak awal tahun ini.

kami membincangkan unit apartemen. ah, lucunya. lelaki dengan pjamas kotak-kotak ingin tinggal di jakarta kelak? “maintenance enggak repot, sementara bisa disewakan saat aku masih ada disini,” katanya. boleh boleh. nanti ya saya carikan segepok brosur hunian vertikal di jakarta.

kami juga membincangkan rencana bulan sembilan. iiih, kan masih lama! tapi kami akan menabung keinginan dan kerinduan untuk bulan sembilan. mau ini. mau itu. “aku mau naik angkutan umum di japan nanti, tidak usah pakai mobil,” kata saya. iya, iya. kemudian dengan garangnya ia memamerkan beragam angkutan umum di japan. uwh. jakarta mana punya ya. tapi, kelak jakarta pasti punya.

yang jelas, nanti jika berjumpa kembali kami akan membandingkan lebar lingkar pinggang celana. “kamu kan lebih besar dari aku!” kata saya, ngotot. agaknya ia tak mau mati gengsi. “itu karena aku lebih tinggi dari kamu, sayang. jadinya terlihat lebih besar!” hahahahahaha … lihat. lihat saja nanti.

obesitas. berat badan. ukuran pakaian. asupan makanan. malas olah raga. kami menjejerkan sejumlah ejekan. untuk kami tertawai bersama. coba saja lihat, kabel putih pesawat telepon ini juga ikut tertawa melihat polah kami.

kami mengenang masa sekolah. bandelnya femi hingga DO. “itu bener ya, kamu DO dulu? kok bisa?” tanyanya, terheran. ah, harusnya kami berjumpa sepuluh tahun silam. biar saja ia melihat kelakuan si bungsu di sekolah. malas belajar. melawan guru dan ibu asrama. suka mencuri pepaya di kebun belakang. malas ke gereja. botak. hiiii …

kelak, kami berharap bisa ke Bali. mencacah waktu diantara belantara jam kerja. liburan. saling mendekap hangat sepanjang hari. berjejalin dengan Bali yang tak pelit matahari.

humh.

kami merindu.

telepon cinta ini membuat rindu kami habis dalam dua jam. dan nanti setelahnya, akan muncul kerinduan lain yang akan kami tabung untuk perbincangan minggu depan. saya tetap disini. ia juga masih disana. kami bergerak dengan aktivitas yang kami lalui saban hari.

kami juga terus jatuh cinta pada orang yang sama setiap harinya. saya dan dia, tentu saja. 

Written by femi adi soempeno

February 9, 2008 at 12:17 am

saya kangen esti

with one comment

saya kangen esti, kakak saya.

rasa kangen ini lebih tebal ketimbang seiris pizza di pizza hut. bahkan, jauh lebih tebal dari burger di burger mblenger. lebih tebal ketimbang serutan daging kelapa dari sebutir kelapa muda di pinggir pantai parangtritis. juga, lebih tebal dari novel yang tengah saya baca saat ini, yaitu the thirtheenth tale. tebal, tebal sekali. dan, semakin menebal. aduh, saya sendiri tidak bisa menjelaskan setebal apa rasa kangen ini.

rasa kangen ini juga lebih tebal ketimbang rasa kangen-rasa kangen yang lain. pada pacar, pada bekas pacar, pada gebetan, pada kekasih gelap, pada teman dekat, pada sahabat, pada toto yang sempat menghilang, pada teman-teman yang sudah bertahun-tahun tak berjumpa, pada … lebih tebal. kali ini rasa kangen saya pada esti lebih tebal. bagaimana menjelaskannya ya.

rasa kangen ini juga lebih tebal dari rasa ingin membeli sesuatu. keinginan iPod touch, ah masih kalah tebal. pengin seloyang tiramisu, itu juga masih kalah tebal. pengen anjing golden retriever, juga kalah tebal. pengen pulang naik pesawat setiap minggu, juga masih kalah tebal. pokoknya lebih tebal rasa kangen ini daripada rasa pengen-pengen itu. saya sendiri bingung untuk menjelaskan rasa kangen ini.

saya kangen esti, kakak saya.

rasanya seperti kangen dengan ayah, ibu, dan juga rumah di jogja. setebal itu rasa kangen saya pada esti. ingin terbang ke US. paling membuang US$ 1200 plus fiskal Rp 1 juta. sudah, itu saja. bawa badan doang juga cukup. untuk sekadar memeluk dan membisiknya, “mbakyu, aku kangen banget je karo kowe …”

sudah setahun lebih. sejak mei, sejak kepergian ayah. sudah setahun. “tahun depan kamu ke US ya!” katanya saat itu, di bandara, menjelang kepergiannya ke US kembali. saya hanya tersenyum, karena saya sendiri tidak tahu bakal bisa pergi atau tidak.

kepergian saya ke berlin berarti memupus harapan saya bakal diijinkan kembali cuti sebulan untuk mengunjungi kakak saya di US. jawabannya sudah pasti untuk tahun ini. “oktober cuti ke US? enak aja … ” seloroh BY, bos besar di pabrik kata-kata, sambil terkekeh panjang.

bahkan, saya sudah mereka ulang untuk meminta ijin pergi ke US lagi, tahun depan. jawaban itu saya dapat saat saya masih di berlin. juga, dari BY. “… tahun depan ke US? Ah, siapa yang mau kasih izin…enak men….”

waduh, cilaka. bagaimana saya membayar rasa kangen saya pada esti, kakak saya?

bener ni. saya kangen esti, kakak saya.

kangen, kangen banget.

Written by femi adi soempeno

September 15, 2007 at 7:46 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , ,