The red femi

Posts Tagged ‘rumah

kursi malas dan bantal batik, perpaduan yang sempurna

with one comment

Saya pikir, saya lekas sembuh bukan karena imunos maupun dexaflox dan theragran-m yang diberikan dokter sidharto, tapi karena kenyamanan kursi malas di rumah.

Sungguh, kursi malas itu enggan membuat saya beranjak. Kursi itu terbikin dari pentil berwarna biru. bagian kakinya bisa ditarik memanjang sehingga kaki bisa selonjor dengan nyamannya. Sementara itu bagian punggung kursi bisa disetel hingga landai. Ditambah, ada dua bantal batik yang menyangga punggung agar lebih nyaman, Jadinya, bisa bermalas-malasan dengan sempurna.

Enaknya.

Kursi itu dipesan ayah secara khusus untuk ibu, delapan tahun silam. Ketidakberdayaan ibu untuk merebah di kasur, membikin ayah memesan kursi model jadoel itu. toh, ibu tetap tidak bisa menggunakannya dengan baik. Pentil yang menjadi penopang kursi justru membikin ibu kesulitan untuk mengangkat tubuhnya. Hasilnya, ya si bungsu ini yang pancikan demi menggeret tubuh ibu ke atas.

Dan kini giliran saya yang menggunakannya. Membikin badan ini menyembuh lebih cepat. Bukan karena obat, tapi karena kursi malas ini.

Terima kasih.

Written by femi adi soempeno

September 26, 2008 at 9:40 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , , , ,

saya hanya bisa memangkasnya saja

with 2 comments

Saya sudah membiarkannya lebih dari seminggu sejak kedatangan saya ke Jogja.

Tanaman tetean itu menggondrong. Pucuk daun yang muda menghijau kian matang dan menunjukkan kekokohannya sebagai tanaman pagar. Makin liar. Makin menggeliat dengan kasar. Dan saya belum juga memotongnya meski saya sudah punya pemotong tetean yang baru yang saya angkut dari Jakarta.

Gunting pemotong ini bermerek dagang Green Land. Mestinya, ini adalah pemotong rumput. Dari bungkusnya sudah tertera jelas: Grass Shears dengan putaran hingga 90 derajat. Warnanya merah muda dengan kombinasi merah tua. Desain pemotong ini sangat nyaman untuk dipegang.

Sebelumnya, saya sudah menggunakan Green Land yang lebih kecil, pruning shears. Yaitu, yang bisa memangkas dahan diameter yang lebih tebal. Misalnya, dahan tetean yang sudah mengeras dan menebal. Pemotong yang lebih kecil dengan mata pisau yang lebih pendek memudahkan segalanya.

Ingin rasanya berkebun lagi. Sungguh-sungguh berkebun. Memastikan bahwa ada begitu banyak hijau-hijauan di sepetak tanah di rumah. Seperti yang dilakukan ayah dulu, menyingkirkan fajar dan menyambut senja dengan mengoprek pupuk, dahan kering, pucuk yang menghijau dan cipratan air segar untuk membasuhi tanaman.  

Mungkin tidak saat ini. Tapi nanti, pasti cuilan tanah di rumah akan kembali menghijau. Pasti. Saat ini hanya bisa pangkas memangkas saja.

Written by femi adi soempeno

September 24, 2008 at 4:58 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , ,

ah, sampahnya segunung!

leave a comment »

minggu ini, saya geleng-geleng kepala sendiri.

ada begitu banyak sampah yang harus dilempar ke pembuangan sampah yang besar. botol air mineral. botol bir. dedaunan. wah.

kloter pertama, sampah-sampah rumah dan dapur. kloter kedua, sampah kebon.

saya jadi mengerti, mengapa ayah begitu bersemangat membuang sampah setiap hari dulu. dengan sepeda polygonnya. atau, sekadar berjalan kaki saja. “buat olah raga sekalian,” katanya. iya, iya. sampah di rumah selalu banyak. selalu ada yang dibuang. selalu ada yang harus disingkirkan.

padahal ya kami hanya hidup sendiri saja. dulu, ayah sendiri. dan sampahnya banyak. saya, kini juga sendiri, dan hanya menghabiskan ujung minggu saja. tapi, tetap saja sampahnya banyak.

aih.

Written by femi adi soempeno

August 24, 2008 at 8:18 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

patah di dalam

with one comment

dingin menggiggit.

ah, jogja selalu begini, belakangan ini. musim panas selalu menyisakan dingin yang amat sangat. juga, sembribit alias berangin dingin. dan jaket merah tak juga mampu mengunci rasa atis. tetap saja, dingin. susupan angin ini yang buru-buru membikin saya ingin bersegera masuk ke dalam. menghangatkan tubuh dibawah selimut hangat.

dan… klek. kunci berputar begitu saja.

shoot. anak kunci ini patah di dalam. ah, bagaimana bisa masuk? sementara, rumah inti tetap saja terkunci dari dalam kendati saya masuk dari pintu belakang.

ah, mulai panas. mulai hangat. panik, cemas, gelisah. ketiganya membikin rasa dingin itu tiba-tiba hilang. yang ada, rasa hangat mengaliri tubuh. saya tahu, saya tak bisa masuk ke dalam rumah.

“mas, badhe sambatan. mbok nyuwun tulung mbuka lawang omah kula …” kata saya, pada tetangga yang masih meriung di warung bu koyo.

pak rt. tangannya lebih mungil sehingga bisa nyelip di jendela pintu belakang.

ah, terima kasih. leganya bisa masuk ke rumah. buru-buru, saya mencuci kaki dan meneggelamkan tubuh di bawah selimut.

Written by femi adi soempeno

August 3, 2008 at 10:52 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

a day without american

with one comment

ada yang berbeda dengan kepulangan saya kali ini, dibandingkan dengan tiga bulan terakhir.

iya, benar, kyle tidak lagi disini. humpff …

biasanya saya datang, kehabisan gelas untuk minum dan kemudian harus ekstra usaha mencucinya sebelum bisa menengak cokelat hangat. kemudian, beberes rumah dan merencanakan perjalanan untuk weekend. tentu saja, bersama kyle. ke kebun binatang. atau ke pantai. atau ke gunung. atau putar-putar kota. atau … banyak! yang jelas, makan-makan tetap harus jalan.

tapi tidak kali ini.

tawaran yang datang ujung minggu ini berbeda. datang ke rumah dan tidak ada kyle. aih.

saya menemukan kehidupan saya yang sesungguhnya. datang, bermalas-malasan di kursi malas sembari menikmati roti tawar yang di tengahnya terselip keju. dan cokelat hangat menjadi pasangan yang serasi. sedap.

saya kembali menjadi tuan di rumah saya sendiri. nanti mencuci. nanti membersihkan rumah. nanti masak. nanti mengatur rumah. nanti berkebun. nanti …

dan sabtu sebentar lagi habis. saya masih teronggok di rumah. malas. baru keluar untuk mencari makan atau bahan makanan untuk masak di rumah.

begini rasanya menjadi  lajang. sendirian. without american.

saya menemukan wine masih tergeletak utuh di bookshelves. ada yang mau?

 

Written by femi adi soempeno

May 24, 2008 at 2:48 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

Protected: terima kasih, selamat jalan

leave a comment »

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Written by femi adi soempeno

May 12, 2008 at 1:22 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

‘thot’

leave a comment »

tiba-tiba saja saya teringat deraian tawa saya dan esti, kakak saya.

siang itu om joko datang ke rumah. dia adik ibu nomor 11. om joko membantu membalikkan mesin jahit ibu, agar terlipat ke bagian dalam, sehingga bisa berfungsi sebagai meja.

kendati ibu jagoan menjahit, rupanya darah itu tidak menitis pada kami berdua. tapi jika dibandingkan esti, saya lebih bisa menjahit. pelajaran menjahit terakhir yang ibu berikan pada saya adalah menjahit celana pendek. dan bisa. sesudahnya, tak lagi punya kesempatan untuk belajar menjahit hingga ibu tutup usia.

itu sebabnya, alih-alih menjahit kemeja. membalikkan mesin jahit ke arah tertelungkup saja sulit. dan om joko membantu kami.

om joko bilang, “nek meh dinggo meneh, diminyaki wae. ibu isih kagungan ‘thot’ ora?”

apa? ‘thot’????

ungkapan itu menggelikan bagi kuping saya dan esti. dulu, saat kami masih kecil dan tinggal di rumah simbah putri, kata ‘thot’ sebagai penunjuk minyak mesin itu sangat sering terdengar. tapi kata itu sudah hilang dari jangkauan gendang telingan kami selama bertahun-tahun.

thot.

ibu, seandainya ibu masih ada. si bungsu ini masih mau belajar bikin kemeja. tentu saja, mesin jahit harus diberi thot dulu biar bisa bekerja dengan lancar.  

Written by femi adi soempeno

May 6, 2008 at 6:48 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,