The red femi

Posts Tagged ‘sakit

kursi malas dan bantal batik, perpaduan yang sempurna

with one comment

Saya pikir, saya lekas sembuh bukan karena imunos maupun dexaflox dan theragran-m yang diberikan dokter sidharto, tapi karena kenyamanan kursi malas di rumah.

Sungguh, kursi malas itu enggan membuat saya beranjak. Kursi itu terbikin dari pentil berwarna biru. bagian kakinya bisa ditarik memanjang sehingga kaki bisa selonjor dengan nyamannya. Sementara itu bagian punggung kursi bisa disetel hingga landai. Ditambah, ada dua bantal batik yang menyangga punggung agar lebih nyaman, Jadinya, bisa bermalas-malasan dengan sempurna.

Enaknya.

Kursi itu dipesan ayah secara khusus untuk ibu, delapan tahun silam. Ketidakberdayaan ibu untuk merebah di kasur, membikin ayah memesan kursi model jadoel itu. toh, ibu tetap tidak bisa menggunakannya dengan baik. Pentil yang menjadi penopang kursi justru membikin ibu kesulitan untuk mengangkat tubuhnya. Hasilnya, ya si bungsu ini yang pancikan demi menggeret tubuh ibu ke atas.

Dan kini giliran saya yang menggunakannya. Membikin badan ini menyembuh lebih cepat. Bukan karena obat, tapi karena kursi malas ini.

Terima kasih.

Written by femi adi soempeno

September 26, 2008 at 9:40 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , , , ,

obat-obatan terlarang

leave a comment »

Sejak tahu ibu menenggak hampir sepuluh obat sekali makan saat ia harus berbaring di rumah sakit, saya tahu bahayanya obat bagi tubuh.

Salah satu penetral obat yang kadung masuk ke tubuh adalah gelontoran air putih yang begitu banyak, nyak! Sayangnya, ibu tak mampu mengguyuri tubuhnya dengan air putih. Endapan obat enggan pergi dari ginjalnya. Ditambah, jantungnya membengkak. Pengeluaran tak begitu bagus. Tubuh ibu membengkak. Dan ibu harus berpasrah untuk pulang pada si pemilik hidup.

Dan sejak itu, saya tak pernah memasukkan obat dalam tubuh saya. Kalaupun ada, itu pasti sangat terpaksa karena harus berkejaran dengan deadline dan jadual kepulangan. Kalaupun ada obat dari dokter, hanya saya tenggak satu-dua kali saja. selebihnya, masuk keranjang sampah.

Tapi saya tidak bisa menghindar dari obat kali ini. imunos, theragran-m dan dexaflox harus masuk ke tubuh. Ditambah lagi, enzyplex. Owh! Masih lagi, spirulina untuk penguat pencernaan.

Rasanya mual ada begitu banyak obat yang masuk ke tubuh. Lebih dari delapan gelas saya gerojogkan ke dalam tubuh demi mengusir endapan obat. Masih ditambah tambalan keringat yang berlebihan, yaitu dengan susu beruang dan pocari.

Semoga yang terbaik datang untuk tubuh ini. amin!

Written by femi adi soempeno

September 25, 2008 at 9:47 am

Posted in Uncategorized

Tagged with ,

pocari sweat dan bear brand

leave a comment »

Belakangan kulkas saya selalu penuh dengan pocari sweat dan bear brand.

Saat mulai terkapar di Jakarta dua minggu lalu, tidak sedikit kerabat yang menganjurkan untuk mengasup pocari sweat. Wah. Sebenarnya saya tak begitu suka minuman ini. rasanya asing di lidah saya, tidak sebersahabat teh hangat atau cokelat panas kesukaan saya. Rasanya malah seperti kolaborasi air, gula dan garam dengan sedikit perasan jeruk nipis. Hiyh.

Toh, saking banyaknya yang meminta saya untuk mengisi tubuh dengan pocari, saya pun menurutinya. Awalnya, saya hanya bisa menghabiskan satu botol saja. selebihnya, saya memilih jus jambu merah dan teh prendjak dengan gula tropicana. Setiba di jogja, saya makin menggila menukarkan lembaran rupiah saya dengan pocari sweat. Dalam sehari, saya bisa menghabiskan sedikitnya lima botol pocari.

Susu beruang? Ah, yang ini jangan ditanya. Ini susu steril kesukaan saya. Plain, dan enak diminum selagi dingin. Entah sugesti, entah karena khasiatnya, saya selalu merasa lebih baik setelah minum susu beruang ini.

Dan sampai hari ini, kulkas saya masih penuh dengan pocari dan susu beruang. Tapi maaf ya, kali ini saya sedang tidak ingin berbagi.

Written by femi adi soempeno

September 23, 2008 at 5:01 am

belimbing dan kenangan dengan ayah

leave a comment »

jantung saya terasa mau berhenti saat mendapatkan sekeranjang buah dari teman. Belimbing. Ya, belimbing. Bukan belimbing wuluh, tetapi belimbing bintang.

Belimbing selalu mendekatkan saya pada ingatan akan ayah.

Sejak kepindahan kami sekeluarga 20 tahun silam ke Bumijo, ada pohon yang selalu dirawat dengan baik oleh ayah, yaitu belimbing bintang. Pohon ini ada di ‘rumah kecil’, begitu kami biasa menyebut. Pohon ini dulunya kecil, bahkan saya tak pernah mengira akan berbuah manis hingga ayah tutup usia, dua tahun silam.

Ayah rajin merawatnya, memberinya ruang untuk mengokohkan akar. Hingga batangnya mengeras, dedaunan merindang dan membikin pelataran kecil di rumah kecil menjadi teduh. Sesekali, batang pohon belimbing menjadi latar belakang untuk acara potret keluarga.

Belimbing berbuah. Ayah tak pernah sanggup untuk memetiknya sendiri. Dan ayah membikin ‘sengget’ alias bilah bambu panjang dengan pisau di bagian ujung untuk memotong buah belimbing yang matang agar terjatuh dan bisa ditangkap dengan tangan. Selebihnya, ayah juga yang paling rajin memungut belimbing yang berjatuhan, membersihkannya, dan mengiriskannya untuk kami.

Bunga pohon belimbing kecil, dan sangat mengotori pelataran. Dedaunan yang kuning dan mengering usai musim panen belimbing, tak kurangnya membuat ayah bekerja lebih giat agar pelataran tetap terlihat bersih. Dan ayah tak pernah mengeluh.

Belimbing yang ada di tangan saya ini selalu mengingatkan saya pada ayah. Yang setia pada semua tanamannya. Yang mencintai tanamannya. Yang merawat kehidupan untuk semua tetumbuhannya. Termasuk belimbing. Ulat dalam belimbing yang membusuk disingkirkannya agar kami bisa tetap makan buah belimbing dari kebun sendiri. ayah selalu mengiriskan untuk kami.

Ayah pergi, belimbing pun mati. Bulik tidak seperti ayah. Dia benci tanaman. Semua tanaman ayah dimusnahkan, termasuk belimbing.

Semoga ayah tidak marah ya.

Written by femi adi soempeno

September 21, 2008 at 9:48 am

enggan sembuh

with one comment

sudah sejak seminggu yang lalu saya mendaftar di rumah sakit pantirapih.

saya memeriksakan tangan saya pada dokter syaraf. sakit sekali. masih sakit. pergelangan tangan kanan, persis di urat sebelah pojok. ini masih rentetan kesakitan akibat ditabrak orang, april lalu.

“fisioterapi ya …” kata dokter joko. ah. apa pula ini. panjang sekali mejanya. ditabrak, rontgen, urut, dan sekarang fisioterapi.

sesekali sakit itu datang.

saat bangun pagi. saat menyangga tubuh. saat memeras cucian. saat menarikan sothil diatas wajan. saat membuka selai strawberry.

mungkin tak akan sembuh. bahkan, tak bisa sembuh.

Written by femi adi soempeno

August 2, 2008 at 11:08 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

sakit kanker dan rahasia umur

with 4 comments

tak ada yang tahu soal usia. hanya Dia saja.

pagi tadi ada ajakan pulang ke jogja bersama. dari abang. istrinya baru saja mengangkat kankernya. “tapi mau mutus rantai keturunan kanker,” katanya. iya. apapun dilakukan agar tak menyebar. agar tak beranak pinak dan menggerogoti tubuh.

abang juga cerita tentang tantenya. empat puluh tahun silam, perempuan ini sudah mengangkat rahimnya. kanker juga. empat dasawarsa tak ada tanda penyebaran kanker. bahkan bibit secuil pun tak ada. “tiba-tiba minggu lalu dadanya sesak, diperiksa, ternyata ada kanker di paru-parunya. dicek lagi, ternyata itu sekunder, yang primer ada di rahim,” bebernya. dan itu sudah stadium empat. owh. “dan secara medis, sudah nggak lama lagi,” imbuhnya.

kanker.

kanker sudah mengantarkan ayah saya pada ibu di rumahnya yang baru. juga beberapa teman yang lain. seperti pencabut nyawa saja. saya masih ingat betul bagaimana suster perawat dengan canggung bilang, “ya mbak nya tahu sendiri lah bagaimana orang yang sudah kena kanker …” ia tak mau meneruskan kalimatnya.

senyatanya, ada pula yang memainkan penyakit ini. sebuah blog yang kini tak lagi mengudara menyisakan polemik panjang tentang leukemia yang dideritanya. dideritanya? ah, tidak juga. serangkaian jawaban masih saya simpan. apalagi kalau bukan soal kebohongannya. saya heran. saat semua orang menginginkan sehat, kenapa justru mengaku-aku sakit demi meraih simpati dan menggemukkan hits pada blognya. heran.

apapun itu, penderita kanker hidup dariNya. dan juga, dari segenap karma baik yang dikantonginya.

Written by femi adi soempeno

July 24, 2008 at 6:27 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,