The red femi

Posts Tagged ‘semangat

katak tuli

leave a comment »

pada lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah, saya berkabar pagi ini, tentang cerita si katak tuli. saya mendapatkan cerita ini dari teman pesulap di jogja, mas heri.

pada suatu hari ada segerombol katak-katak kecil yang menggelar lomba lari.  tujuannya adalah mencapai puncak sebuah menara yang sangat tinggi. penonton berkumpul bersama  mengelilingi menara untuk menyaksikan  perlombaan dan memberi semangat kepada para peserta. perlombaan dimulai…
 
Secara jujur, tak satupun penonton benar2 percaya bahwa katak2 kecil akan bisa mencapai puncak menara. Terdengar suara, “Oh, jalannya terlalu sulitttt!! mereka  TIDAK AKAN PERNAH sampai ke puncak.” atau, ‘tidak ada kesempatan untuk berhasil…menaranya terlalu tinggi…!! dan katak-katak kecil mulai berjatuhan. Satu persatu, kecuali mereka  yang tetap semangat menaiki menara perlahan- lahan semakin tinggi…dan semakin tinggi..

Penonton terus bersorak “terlalu sulit!!! tak seorangpun akan berhasil!” dan, lebih banyak lagi katak kecil lelah dan menyerah. tapi ada  SATU yang melanjutkan hingga semakin tinggi dan tinggi. dia tak akan menyerah! akhirnya yang lain telah menyerah untuk menaiki menara. kecuali  satu katak kecil yang telah berusaha keras  menjadi  satu-satunya yang berhasil mencapai puncak!

semua katak kecil yang lain ingin tahu bagaimana katak ini bisa melakukannya? seorang peserta bertanya bagaimana cara katak yang berhasil menemukan kekuatan untuk mencapai tujuan? ternyata, katak yang menjadi pemenang itu TULI!!!!

cerita katak ini ingin mengajarkan pada kita agar kita jangan pernah mendengar orang lain yang mempunyai kecenderungan berpikir negatif ataupun pesimis karena mereka mengambil sebagian besar mimpi kita dan menjauhkannya dari kita. karena itu tetaplah selalu berpikir positif. 

pada lelaki dengan pjamas kotak-kotak itu saya bilang, “dan yang terpenting hun, berlakulah TULI jika orang berkata kepadamu bahwa kamu tidak bisa menggapai cita-citamu maupun menyelesaikan semua pekerjaanmu. selalu berpikirlah: I can do this!”

di akhir surat elektronik, saya mengecup kecil, “selamat hari senin, sayang!”

Written by femi adi soempeno

February 18, 2008 at 11:22 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

done, again

leave a comment »

Sebuah sejarah telah diguratkan oleh sejumlah pejabat di negeri ini, satu dasawarsa silam. Mereka yang saat itu disebut-sebut sebagai anak emas Soeharto, mendadak dituding sebagai orang-orang yang berperan menjungkalkan Soeharto. Iya, anak-anak itu telah ‘membunuh’ bapaknya sendiri.

Direncanakan atau tidak, surungan agar Soeharto mundur dari kursi RI-1 telah mereka lakukan. Mulai dari Harmoko yang menggelar sidang terbatas dengan para pemimpin fraksi di Senayan dan bersepakat, “… demi persatuan dan kesatuan bangsa, agar Presiden secara arif dan bijaksana sebaiknya mengundurkan diri.” Sekonyong-konyong, sebuah batu besar ditimpakan Soeharto oleh ‘Si Bung’, anak emas yang sebelumnya senantiasa menuruti petunjuknya.

Belum selesai satu perkara, perkara lain muncul. Yaitu, mundurnya empat belas orang mentri yang berada dibawah koordinasi anak emasnya yang lain, yaitu Ginandjar Kartasasmita. Padahal, semalam sebelumnya Ginandjar ikut membantu Soeharto menyusun orang-orang yang bakal didudukkan dalam kabinet yang anyar.

Hingga akhirnya pada pemakaman Soeharto 28 Januari 2008 silam, tak urung Ginandjar berujar, “Saya bilang kepada Mbak Tutut, maafkan saya, kalau peristiwa itu dianggap sebagai dosa atau kesalahan.” Ia mengimbuhkan, ia meminta maaf juga lantaran berbeda pandangan dengan Pak Harto sesaat sebelum reformasi.

Anak emas Soeharto yang dituding mengkhianati keluarga Cendana adalah Prabowo Subianto. Malam itu, Soeharto sedang duduk bersama Wiranto dan putra-putri Cendana. Prabowo dianggap pecundang di depan keluarga istrinya. Yang pertama berdiri adalah putri bungsu Suharto, Mamiek. “Mamiek melihat saya, kemudian menudingkan jarinya seinci dari hidung saya dan berkata: “Kamu pengkhianat!” Dan kemudian “Jangan injak kakimu di rumah saya lagi!” Jadi, saya keluar. Saya menunggu. Saya ingin masuk. Saya katakan saya butuh penjelasan. Istri saya menangis.” Setelah itu, Prabowo pulang.

Belum lagi Habibie yang diharapkan juga ikut lengser saat Soeharto lengser, nyatanya pasrah menerima sampur untuk melanjutkan pemerintahan Soeharto. Ketidaksukaan Soeharto terhadap sikap Habibie ini tercermin dari sikap Soeharto pada 21 Mei 1998. Habibie bercerita, “Namun, baru saja saya berada di depan pintu ruang Jepara, tiba-tiba pintu terbuka dan protokol mengumumkan bahwa Presiden Republik Indonesia memasuki ruang upacara. Saya tercengang melihat Pak Harto, melewati saya terus melangkah ke ruang upacara dan melecehkan keberadaan saya di depan semua yang hadir.”

Siapapun itu, orang-orang yang pernah sangat dekat dengan Soeharto pada masa kejayaannya, harus ditendang dari lingkaran Cendana. Suka atau tidak suka, itulah yang terjadi pada Habibie, Harmoko, Prabowo maupun Ginandjar. Bahkan, ABRI dan Golkar yang selama tiga dasawarsa menjadi kendaraan Soeharto, juga ikut diasingkan oleh The Smiling General itu.

Dengan tudingan jari telunjuk berjarak seinci dari wajah, dengan surat pengunduran diri para menteri, dengan himbauan untuk mengundurkan diri, semoga saja Indonesia bisa belajar dari sejarah bangsanya yang ditulis dengan cerita-cerita tentang pengkhianatan. Sungguh, sejarah senantiasa berulang.

Salam hangat,

Femi Adi Soempeno

(Ps: terima kasih ya, kalian sungguh baik. energi ini tak ada habisnya untuk mencatatkan diri sebagai penulis, dan kian menggurat sebagai penulis. it is done, again.)

Written by femi adi soempeno

February 12, 2008 at 12:17 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

tak putus-putusnya bersemangat

with one comment

apa yang lebih indah dari gelak tawa dan pelukan hangat, serta buncah rindu dan keringat kebahagiaan?

tak ada. mereka adalah semangat. iya. gelak tawa, pelukan hangat, buncah rindu dan keringat kebahagiaan adalah semangat. tahun depan, 2008, saya ingin terus bersemangat. iya, tetap bersemangat. kata kuncinya satu kok: semangat. itu saja.

lihat, hutang-hutang tulisan masih banyak. segudang rencana plesiran juga masih tertunda. kecupan hangat di pipi, juga masih terhitung sebagai hutang piutang. 🙂 semuanya harus dibayar di tahun 2008. lunas.

menulis, dan terus menulis.

menabung rindu, dan memecahnya di ujung tahun 2008.

itu saja. saya tak boleh memutuskan rantai semangat ini. iya, terus semangat, femi!

Written by femi adi soempeno

January 1, 2008 at 12:29 am