The red femi

Posts Tagged ‘telepon cinta

tidak ada telepon cinta minggu ini

with one comment

tiba-tiba saja air muka saya berubah. saya tidak melihat di cermin, tetapi saya bisa merasakannya.

iya, tidak ada telepon cinta minggu ini. lelaki dengan pjamas kotak-kotak itu tak sempat menelpon saya. kunjungan pekerjaan ke cabang membuat dua jam itu dihabiskan untuk meriung bersama dengan teman-teman kerjanya.

padahal, saya rindu.

Written by femi adi soempeno

February 16, 2008 at 10:20 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , ,

telepon cinta

leave a comment »

sudut mata ini mengerut. ingin rasanya menangis. kali ini bahagia.

perbincangan lebih dari dua jam lewat pesawat telepon merupakan representasi dari tabungan rindu kami yang terpecah. seminggu. menumpuk. tinggi rindunya segunung, bahkan lebih. rindu ini sungguh menguras energi. tapi kerinduan ini memecut hati, kian kuat, kian kokoh, kian membentuk, kian utuh. lewat udara, jarak bermil-mil jauhnya mengantarkan derai tawa kami, dan juga secuil kemanjaan.

langkah kami semakin selaras seirama. kami membutuhkan pengertian. dan, stok pengertian itu selalu ada. pendeknya, kompromi. sungguh, saya bersyukur atas kehadirannya dalam hidup sejak empat tahun belakangan. bahagia ini tidak tanggal. menyenangkan. sabtu pukul 18.00 kian menguatkan apa yang kami mulai sejak awal tahun ini.

kami membincangkan unit apartemen. ah, lucunya. lelaki dengan pjamas kotak-kotak ingin tinggal di jakarta kelak? “maintenance enggak repot, sementara bisa disewakan saat aku masih ada disini,” katanya. boleh boleh. nanti ya saya carikan segepok brosur hunian vertikal di jakarta.

kami juga membincangkan rencana bulan sembilan. iiih, kan masih lama! tapi kami akan menabung keinginan dan kerinduan untuk bulan sembilan. mau ini. mau itu. “aku mau naik angkutan umum di japan nanti, tidak usah pakai mobil,” kata saya. iya, iya. kemudian dengan garangnya ia memamerkan beragam angkutan umum di japan. uwh. jakarta mana punya ya. tapi, kelak jakarta pasti punya.

yang jelas, nanti jika berjumpa kembali kami akan membandingkan lebar lingkar pinggang celana. “kamu kan lebih besar dari aku!” kata saya, ngotot. agaknya ia tak mau mati gengsi. “itu karena aku lebih tinggi dari kamu, sayang. jadinya terlihat lebih besar!” hahahahahaha … lihat. lihat saja nanti.

obesitas. berat badan. ukuran pakaian. asupan makanan. malas olah raga. kami menjejerkan sejumlah ejekan. untuk kami tertawai bersama. coba saja lihat, kabel putih pesawat telepon ini juga ikut tertawa melihat polah kami.

kami mengenang masa sekolah. bandelnya femi hingga DO. “itu bener ya, kamu DO dulu? kok bisa?” tanyanya, terheran. ah, harusnya kami berjumpa sepuluh tahun silam. biar saja ia melihat kelakuan si bungsu di sekolah. malas belajar. melawan guru dan ibu asrama. suka mencuri pepaya di kebun belakang. malas ke gereja. botak. hiiii …

kelak, kami berharap bisa ke Bali. mencacah waktu diantara belantara jam kerja. liburan. saling mendekap hangat sepanjang hari. berjejalin dengan Bali yang tak pelit matahari.

humh.

kami merindu.

telepon cinta ini membuat rindu kami habis dalam dua jam. dan nanti setelahnya, akan muncul kerinduan lain yang akan kami tabung untuk perbincangan minggu depan. saya tetap disini. ia juga masih disana. kami bergerak dengan aktivitas yang kami lalui saban hari.

kami juga terus jatuh cinta pada orang yang sama setiap harinya. saya dan dia, tentu saja. 

Written by femi adi soempeno

February 9, 2008 at 12:17 am

telepon cinta

with 2 comments

sepertinya kami ada di dalam kelas dan mengacungkan tangan saat pak guru mengabsen. “hadir!”

jogja masih basah saat kami membikin temu janji pukul 6 sore. berbincang. meregang rindu. membikin jalan setapak cinta ini menjadi lebih panjang. berjejalin lebih erat. hangat.

suaranya lirih. tapi dari kejauhan, saya bisa membayangkan senyumnya yang nakal dengan aksen indonesianya yang sudah berantakan. saya jadi membayangkan hangatnya pelukannya. dulu.

padanya saya bilang, “aku kangen.”

“kenapa kangen?” tanyanya. ini adalah pertanyaan menyebalkan yang pernah saya dengar.

“apakah harus ada alasan untuk kangen?” saya balik bertanya.

“iya …” jawabnya.

sekenanya, saya membikin alasan. “karena kamu jauh. kalau dekat, bisa jadi aku nggak sekangen saat ini.”

saban sabtu, ungkapan ‘kangen’ ini lebih mudah diumbar. juga, lebih banyak diumbar. dengan suara yang sedikit tertahan dan kekesalan kecil karena jarak kami yang berjauhan. hingga ‘kangen’ menjadi sebuah kata yang dimuntahkan dengan sebuah kesungguhan. ya, dan sabtu adalah ajang mengumbar kangen. tawa renyah. rasa cemburu. membagi ilmu. mengiris kedewasaan.

baru saya tahu, nyatanya ia tak bisa makan soto padang, rendang, sate padang, lamang baluo dan teh talua dalam waktu yang bersamaan. terlalu banyak. saya membayangkan dia berteriak, “emang perut gue sumur??” hahaha … nyatanya dia tak berteriak begitu. “coba femi sedikit lebih dewasa …” katanya.

baginya, ini bukan soal cemburu dan tidak cemburu.

tetapi soal hati yang sedikit terusik saat saya bercerita soal anu, anu, anu, anu, anu, anu, anu … . iya, soal teman-teman laki-laki yang mengerubungi kehidupan saya. eh, teman lo, hanya teman. nyatanya, umbaran cerita ini terlalu berlebihan buatnya. padanya saya bilang, “maafin aku ya …” rasa bersalah itu kemudian muncul.

tapi bukan dia kalau tak bisa membikin saya lekas tertawa kembali. “lho, dia itu duda lo, kaya, ganteng …” godanya, menunjuk pada salah satu tokoh yang saya tulis dalam buku kedua saya. ini dia bagian dari perbincangan yang saya paling nggak doyan. digoda. “saya mendukung kok kalau kamu sama dia …” katanya lagi. halah. dan seperti biasa, saya buru-buru memamerkan rasa sebal saya padanya. mau tahu apa balasannya? sebuah tawa yang renyah. aiiih! “coba kamu ada disini, sudah kucubitin kamu!” kata saya, menyerah.

sabtu malam juga masa untuk mengumbar ciuman. kali ini, kado ciuman untuk saya berlimpah! lebih dari itu, sabtu adalah sebuah penanda. sebuah patok. untuk sebuah rasa kangen yang lunas terbayar.

Written by femi adi soempeno

February 3, 2008 at 10:30 pm

telepon cinta

with 3 comments

rasanya lama sekali menunggu jam 7 malam. sabtu, 19 januari 2007.

langit biru kian menggelap. jarum jam yang panjang juga sudah berputar terus ke kanan, dan terus ke kanan. tetapi jarum jam yang pendek tak juga menuju pada angka tujuh. perbincangan dengan teman-teman juga kian adem. earphone iPod sudah dipasang. michael bubble, lee ryan, keith martin, james blunt bahkan sudah menemani saya menghabiskan sore. tapi jam 7 tak kunjung datang. huwks.

si batang rambutan.

aih, sejak kemarin siang dengan gurauan soal sekeranjang rambutan cinta membuat saya ingin segera berbincang dengannya. tentang rasa rindu. tentang tabungan kangen hingga bulan sembilan. tentang eloprogo. tentang energi yang tak ada habisnya. tentang … banyak hal!

saya melayangkan sapaan cinta untuknya. saya memejamkan mata. berharap jam 7 segera datang.

mandi! aha … tak berjumpa dengannya tak apa. menyingsingkan anak rambut sejenak. mendengarkan suaranya. mungkin nanti butuh satu atau dua jam. rasanya, perlu juga mandi. menyiramkan butiran bening air eloprogo. wangi! segar! dia tak membaui tak apa. tapi angin akan mengabarkan bau wangi tubuh ini hingga ribuan mil jauhnya. iya, lewat angan. lewat rasa. lewat cinta.

aih. kegemaran berkecipak dengan air nyatanya membuat saya betah berlama-lama di kamar mandi.

hingga saya tahu saya terlambat menelponnya. saya menjumpai sapaan cinta darinya. “lagi ngapain hun?” duh, maaf. lagi mandi. sibuk berdandan. sibuk berkemas. agar cantik. agar segar. agar wangi.

phone.jpg“moshi-moshi, bisa bicara dengan batang rambutan?” sapa saya. dan di seberang sana, si pemilik pjamas kotak-kotak merah tertawa renyah. perdebatan dan ‘pertengkaran kecil’ soal rambutan cinta pun muncul kembali.

saya senang mendengar suaranya. saya jadi lebih mudah tertawa. saya jadi lebih mudah riang. saya jadi lebih menjadi diri saya sendiri. sampai-sampai si pemilik pjamas kotak-kotak merah itu bertanya, “kamu ada apa sih, kok ceria banget?” humh. haduh. tak tahukah kamu bahwa tabungan kangen selama seminggu ini terpecah sudah. hutang ungkapan, “aku kangen!” lunas sudah. tapi hanya seminggu. iya, hanya seminggu. besok, bikin tabungan kangen lagi. bikin hutang ungkapan kangen lagi.

keceriaan saban hari ini menjadi kian berlipat saat mendengar suaranya. iya, mendengar suaranya sepertinya jarak ribuan kilometer menjadi tak berarti. teknologi dan kemajuan jaman memangkas segala sesuatu yang berjarak ini (terimakasih, teknologi!) dan energi untuk ceria ini menjadi terlihat semakin ‘keterlaluan’: ceria bangeeeeetttt … keith martin bilang dalam lagunya because of you. “”…you bring life to everything I do … ”

dan kami berbincang. bertukar tutur.

tentang rambutan yang menjejali perut saya. tentang asupan energi darinya. tentang ‘perkawinan’ saya dengan steve. tentang chris dan kisah cintanya yang serupa. tentang cinta anak SMP. tentang bekas pacar. tentang mimpi besok pagi. tentang kegombalan-kegombalan yang tak ada habisnya. tentang keinginan bermanja terus menerus padanya. tentang sandaran harap. tentang lagu dandgut. tentang manis-manja group. tentang aneka ria safari. tentang semesta yang mendukung kami. tentang cinta yang katanya buta. tentang buku secret. tentang buku anak-anak dengan tokoh yang bernama yuki. tentang skenario perjumpaan tempo hari. juga, tentang muntahan yang tak ada hentinya, “aku sayang sama kamu hun …”

tahu tidak rasanya seperti apa? seperti jatuh cinta yang tak ada habisnya! 

saya berdiri persis di pinggir sungai elo. sembari memulas malam yang gelap. dengan nyamuk dan goyangan ilalang yang mencandai kaki saya yang telanjang. saya menyimak setiap getaran suaranya. semoga rasa jatuh-cinta-yang-tak-ada-habisnya ini sungguh-sungguh tak akan pernah habis. biar saja seperti ini. jatuh cinta dengannya. setiap saat. setiap hari. pada laki-laki dengan pjamas kotak-kotak merah. pada sosoknya yang hangat.  

sindrom batuk-batuk di udara malam yang dingin tak lagi saya hiraukan. saya bahagia. gelitikan batuk-batuk ini tak boleh mengganggu kebahagiaan saya. maaf batuk, minggir sebentar ya. biarkan saya menikmati gigitan gelap dengan buncah bahagia yang amat sangat.

rasanya dia tidak berada di ribuan kilometer jauhnya. sepertinya dia hanya ada di seberang sungai elo saja. iya. dia menjadi dekat, dan sangat dekat. dengan tawanya yang kemripik. dengan suara seriusnya yang bersahaja. dalam hitungan detik, secuil pertanyaan muncul. mengagetkan. mengejutkan. “masih mau jadi istriku?”

44:12. terputus. 52:40. terputus. 1:00. terputus. 37:19. terputus. total telepon cinta kami 3 jam 27 menit. tak bisa ya waktu berhenti sebentar. sebentar saja. membiarkan kami mengumbar rindu. tidak, tidak, kami tidak membuang waktu selama 3 jam 27 menit. kami justru membuat waktu hampir tiga setengah jam itu menjadi sangat berharga. sangat berharga.

episode telepon cinta masih akan berlanjut. besok sabtu. sabtu depan. sabtu depannya. sabtu depannya … dan terus.

“because of you my life has changed, thank you for the love and the joy you bring … because of you I feel no same i’ll tell the world just because of you ” kata keith martin.

(ps: i love you hun)

Written by femi adi soempeno

January 19, 2008 at 1:39 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

sekeranjang rambutan cinta

with 4 comments

“ini, rambutan dari kebon sendiri,” kata kunto.

haduh. pas! pas banget! rambutan tak lagi langka saat ini. hanya saja, harganya masih tinggi. ada rambutan dari kebon sendiri, siapa yang tega menolak? saya tidak. kemudian saya dan kunto berbincang tentang banyak hal. pekerjaan, mimpi, dan juga hati. kami berbincang sembari terus mempekerjakan rahang kami untuk menguliti rambutan dari bijinya.

manis. sungguh, rambutan dari kebon kunto ini manis. saya pun menjejalkan deretan kata, memamerkan pada lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah melalui email pendek dari BB. dan kami berbincang bersahutan.

“aku lagi maem rambutan hasil kebun di belakang rumah teman. ueeennnnaaaakkkkkk banget hun! manis! tapi sama aku sih masih manis aku hun. sumpah! :p …” kata saya.

“ya pasti lebih manis rambutannya, … tapi dibanding siapa ya? dibanding batangnya,” selorohnya.

saya tidak terima. masa dibilang manis rambutannya ketimbang saya. atau, ketimbang batangnya? lontaran protes pun saya serukan. “enak ajaaa! manisan aku ketimbang rambutanya dong! kamu ini gimana sih! huwh! 😦 …”

“ya ya ya manisan kamu dari batangnya …” jawabnya singkat. hah? @-) cilaka!

dahi saya berkerut. saya jadi manyun. tetapi tetap kok, sambil terus mengunyah rambutan. “lho, kok ngebandingin aku sama batangnya siiiiiiih????? Huuuuhuhuuuuuuhuuuuuuuuu … 😦 dasar paman gembul!”

yang ada di seberang sana hanya terbahak kecil. sialan.

“awas kamu ya, kalo ketemu nanti kucubitin sampai kamu menyerah kalah! huh! huuuuh !!!” dan saya yang biasa mengumbar cium untuknya, kali ini menyatakan mogok mencium.

lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah mencoba merajuk. aih. “lebih manis kamu dari rambutannya …” nggak mempan ah! terlambat. sudah kadung manyun.

tapi, siapa yang bisa menjamin kemanyunan saya akan konsisten? bahkan saya sendiri pun tidak bisa. mencoba ngambek dan berbagi tanda seru dengannya, rasanya sulit. mustahil. apalagi, hanya karena rambutan, batang rambutan dan saya. toh, manyun ini mendadak bisa lumer dengan hamburan ciuman darinya.

hah. dasar batang rambutan.

(ps: sini. harusnya kamu ada disini, menikmati sekeranjang rambutan cinta yang dibawa oleh kunto dari kebonnya.) 

Written by femi adi soempeno

January 18, 2008 at 8:45 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

01:24, menadah rindu

with 3 comments

tidur saya semalam jauh lebih nyenyak.

lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah itu mencandai saya selama satu jam dua puluh empat menit. kami membincangkan acara tahun baru, soal kebiasaan bagaimana kami merayakan malam tahun baru sendirian. “kami menunggu matahari terbit, disitulah orang-orang berharap ada semangat baru di tahun yang baru,” katanya. haih.

saya pun bercerita soal malam tahun baru yang adem, tahun lalu. pergantian baru untuk pertama kali tanpa ayah membikin saya sesak. duh! hasilnya, ipod saya jepitkan di kuping dan berjalan menyusuri malioboro, hingga gedung kantor pos. “fireworks habis saat detik terakhir pergantian tahun, jadinya ya tiba-tiba sepi begitu saja,” sesal saya. di ujung sana, ia tertawa terbahak-bahak. sialan.

kami juga membincangkan badannya yang menambun. aih, seperti apa ya? tapi ia enggan mengaku perutnya buncit. haha … saya tahu persis, lelaki tengah usia seperti dia, seperti teman-teman saya kebanyakan. gaya hidupnya agak berantakan, apalagi sebagai single-fighter. hawh. pola makan berantakan, olah raga kurang. “kolesterol tinggi, dokter bilang saya gemuk!” hahahahahahahahahaha … sekarang, gilirang saya yang mentertawainya.

sejak ia bilang kolesterol tinggi bbeberapa hari silam, saya pun mulai crewet agar dia makan ini makan itu, olahraga ini olahraga itu. “Sekali makan daging, bisa seperempat kilo saya habiskan sendiri,” jelasnya. haduh. itu laper, kemaruk, doyan, hobi, atau mumpung? makan yang bagus dong, dengan banyak sayuran dan buah-buahan. “alat olahraga sekarang juga udah saya keluarin lagi, saya pake buat olahraga lari di rumah,” katanya. baguuuss …

hanya saja, ia tetap ngomel-ngomel dituding oleh dokter sebagai orang gemuk. haah! “kayak om-om dong, perut buncit, kaya raya, penggoda perempuan, tukang selingkuh, …” kata saya. laki-laki yang berjarak 3584 miles atau 5786 km dari bumi yang saya pijak ini pun protes. “perut nggak buncit kok. hanya … sedikit aja …” eits, nggak boleh protes.

baginya, indonesia kampung bin udik. uwh. tentu saja, sebagai orang yang lahir-besar-bekerja di indonesia, saya tidak terima. misalnya soal subaru forester. perbincangan ini menjadi kian menarik dan ditingkahi dengan gelak tawa saat awalnya kami membincangkan soal harga bensin yang mengekor harga minyak dunia. pertanyaan yang muncul dari mulut saya adalah, “memangnya mobil kamu berapa cc?” dia menjawab, 2000 cc.

wah, SUV! saya jadi ingat, dulu dia pernah bertanya-tanya soal harrier. “kamu tahu range rover?” tanyanya. jelas saya tahu. owh, tunggangannya range rover. “ya, mirip itu … tapi bukan range rover!” lanjutnya. lhah. gimana sih. “disini, ada namanya subaru. serinya forester,” sambungnya. halah. “subaru forester? di indonesia juga banyak!” seru saya, tak mau kalah.

lhah, tinggal nyebut subaru forester aja, apa susahnya. agaknya dia lupa, saya menggawangi halaman otomotif sekitar 3 tahun. rasanya ingin menjitaknya kalau dia ada di sebelah saya. “sayang, Indonesia itu enggak kampung-kampung banget kok! harrier, fortunes, range rover, tucson, santa fe, touareg, forester, xtrail … SUV itu ada semua disini!” saya menjadi gusar dibuatnya. humh.

kami berbincang saat lama, menghamburkan tabungan rindu yang entah kapan bakal kami pecah. saya sambil masak oseng-oseng jagung muda-buncis-tahu-sosis sapi. juga, menggoreng tempe. hingga masakan usai, kami masih terus berbincang. tentang rencana kepulangannya ke indonesia, kerinduannya pada keluarga, pekerjaannya di negeri sakura, bekas-bekas pacarnya, dan sifatnya yang tak pernah berubah. humh. yang trakhir itu, dia memang tak bisa marah pada perempuan. alih-alih pada perempuan, berbicara dengan tanda seru pada kawan laki-laki pun tak pernah.

dan … tut!

ponsel saya mati. agaknya, kredit sudah habis.

eh, sepertinya masih ada yang kurang. ponsel saya berdering kembali. agaknya satu jam dua puluh empat menit masih kurang. dia menelpon kembali. kami menadah rindu.

(ps: hey, saya senang mendengar tawa renyahmu kembali!)  

Written by femi adi soempeno

December 2, 2007 at 11:24 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

kenapa sih tidak boleh menelpon

with 6 comments

saya tidak pernah mengeluh ongkos yang harus saya keluarkan untuk ber-halo-halo.

bahkan, saya tak pernah minta ongkos telepon ini diganti. saya punya uang untuk membayarnya sendiri. uwh. sebel rasanya. kalau sudah begini, ego yang bicara: saya punya gaji untuk membayar semua ongkos ini.  tapi, suara di seberang sana terus ngotot, “nelpon dari indonesia kan mahal sekali … nanti kamu tekor,” katanya. ia meminta agar saya tak usah telepon saban hari.

uwh. ini hal yang paling menyebalkan yang saya dengar. memangnya takut kalau saya mintai ongkos? tidak kok. saya tidak akan minta. atau, memang tidak suka ya saya telepon? hmmpf.

lagipula, saya tidak sedang mengecek aktivitas di seberang sana. saya hanya kangen. iya, saya hanya kangen. itu saja.

tapi kenapa nggak boleh telepon? saya sendiri tidak pernah mengeluh pada setiap sen yang saya keluarkan untuk bilang, “halo, apa kabar? aku kangen sama kamu …” setiap sen yang saya keluarkan adalah ongkos psikologis rasa rindu yang kian menumpuk. lihat, tabungan ini kian penuh saja. menunggu tahun depan untuk memecah celengan ini dan berjumpa, rasanya lama sekali. lantas, kalau saya menelpon, apa masih nggak boleh juga?

saya sedih. kenapa sih saya tidak boleh menelpon.  ya sudah.

Written by femi adi soempeno

November 15, 2007 at 11:28 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,