The red femi

Posts Tagged ‘travelling

sejumlah rencana yang batal

leave a comment »

tahun ini saya merencanakan beberapa perjalanan yang menyenangkan dengan teman-teman.

iya, teman-teman yang ‘sungguh teman-teman’. mereka bukan teman kemarin sore. mereka teman yang sudah menahun berjejalin dengan saya. mencuil senja bersama. menanti hujan yang menitik dan menderas, juga bersama. dengan mereka, saya merencanakan temu janji dan beberapa perjalanan hingga akhir tahun nanti.

menyambangi gunung bromo.

kemah di kaki merapi.

memetik pucuk teh di malabar.

mengarungi sungai musi.

memilih biji kopi di ambarawa.

menyebrang ke lombok dari bali.

menelusuri hangatnya kota jogja.

menyenangkan bukan? iya, dengan mereka, saya merasa tenang dan nyaman. lebih dari keduanya, ya menyenangkan. selalu ada rasa syukur yang harus saya haturkan pada Si Pemilik Hidup atas teman-teman yang berjejalin dengan awetnya. tanpa prasangka buruk. tanpa kebohongan. tanpa telikungan. tanpa tusukan tajam.

saya juga berencana mengajak satu teman lagi. dia pasti senang berjalan-jalan. tapi …

tidak ah. saya memilih untuk membatalkannya. tidak. tidak. tidak usah lagi. jejalin ini justru akan membusuk jika ia turut serta dalam perjalanan ini. tidak usah.

batal. maafkan saya.

Written by femi adi soempeno

April 16, 2008 at 2:18 am

kenapa harus ketemu lagi

with one comment

nagoya. padang. ah!

saya tak habis pikir. browsing di ruang maya, saya justru bertemu artikel travelling yang membikin saya menarik napas panjang. mencoba membaca. tidak menyelesaikan membaca. menutupnya cepat. tulisan itu tentang travelling di nagoya plus padang. cocok.

laki-laki dengan pjamas kotak-kotak merah, apa kabar?

rasanya ingin memencet BB dan menyapa hangat seperti kemarin, “apa kabar?” tapi tidak. tidak bisa. keputusan sudah dibikin dan saya harus menghargainya. tidak ada lagi surat elektronik. tidak ada lagi telepon cinta.

sementara, hati yang kian frozen ini hanya bisa mencair saat menghadapi halaman putih dan menulisinya dengan pelangi yang menderetkan rindu. hey, tak tahukah kalau aku sangat rindu kamu?

dan, saya harus menemukan tulisan tentang nagoya dan padang dari jari saya yang menjelajah ruang maya. aih. garuda indonesia membikinnya dengan sangat apik. perjalanan singkat. promosi awal tahun. dan, cerita cinta yang akan mengusang.

kenapa bukan new zealand. kenapa bukan palembang.

uwh!

Written by femi adi soempeno

April 15, 2008 at 5:13 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

menghitung bintang

leave a comment »

saya menghitung bintang.

dalam perjalanan dari jogja ke bali. satu, dua, tiga … banyak! sungguh, saya menikmati perjalanan dengan beratap bintang. kelamnya membasuh jiwa. adem. dinginnya malam juga tak merobek asa. iya. saya tahu, perjalanan ini sangat mengesankan buat saya.

perjalanan malam memang lebih indah daripada perjalanan siang. perahu yang membawa saya di hamburg pada siang hari, masih kalah cantik dibandingkan pemandangan semalam dari ketapang ke gilimanuk. bintang. bintang. awan gelap. awan hitam. bintang. bintang.

saya jadi tak ingin merapat ke gilimanuk. sudah, disini saja. terombang-ambing oleh laut yang mengombak kecil. terima kasih untuk tidak menjadi ganas. goyangan kapal ini membikin saya akan datang kembali. besok.

satu … dua … tiga …

seandainya ada seseorang yang menghangatkan saya semalam.

 

Written by femi adi soempeno

April 12, 2008 at 3:39 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

kartu sakti

leave a comment »

kartu sakti itu bernama press card.

bukan, bukan, saya tak ingin menyumpal kesempatan yang nyaris zero dengan press card yang saya punya. saya hanya ingin memaksimalkan fungsinya saja. *halah, apa bedanya ya?*

satu. grebegan, rabu lalu, terik menyiksa kepala saya. kyle mulai berkeringat. saya lihat, sejumlah pewarta foto menjejali pagelaran, pelataran masjid agung di alun-alun. “kyle, come up!” seru saya pada bule gila ini. saatnya beraksi.

saya hanya menodongkan kartu pers saya, sembari menggandeng kyle. “dua orang!” seru saya pada penjaga keamanan kraton yang berseragam merah. pintu gerbang dibuka sedikit, mencegah orang lain ikut membuntut masuk.

adem. bola raksasa tak lagi menggantang kepala tanpa topi ini.

dua. prambanan, jumat lalu, saya dan kyle kembali tertahan di pos masuk area candi. “dari mana mbak?” tanya petugas dengan aksen jawa yang sangat kental. saya bilang, dari Jogja. “ini, bule nya dari mana?” lanjutnya lagi. kembali, saya mengatakan jawaban yang sama, dengan saya bubuhi, “mahasiswa Sanata Dharma …”

saya melihat ke belakang, sejumlah pengunjung semakin mengular, menunggu antrian masuk. owh!

“ada kitas atau paspor?” tanyanya lagi. saya menggeleng, dengan alasan, tidak bawa. tapi, memang kok, tidak bawa. “boleh saya jamin pakai ini?” saya kembali menyurungkan kartu pers saya. “mm … oke. silakan masuk. ini spesial lho ya!”

terima kasih. sekali lagi, terima kasih.

Written by femi adi soempeno

March 22, 2008 at 8:11 am

eloprogo

with 3 comments

tempat ini seperti surga di dunia.

eeh, saya sih belum pernah mengintip surga yang tidak ada di dunia. tetapi mencuri dengar tentang keindahannya, bisa jadi sama dengan yang ada di sini. eloprogo.

ini adalah rumah seni milik seniman Soni Santoso. patung batu di bagian depan menjadi penanda pintu masuk ke kawasan seluah satu hektar ini. “itu Beti, istri saya yang sudah meninggal,” katanya sambil menunjuk patung batu dengan bentuk wajah manusia. cantik. patung itu dibuatnya dengan berkongsi bersama perupa lain. “itu belum selesai, maunya masih ada patung lain yang lebih kecil nanti,” imbuhnya.

selebihnya, rumah-rumah yang didesain sendiri oleh soni. jejeran batu bata yang rapi. tanpa plester. tanpa cat. telanjang begitu saja. lantai semen. lantai bebatuan. lantai kayu. adakah yang lebih menarik ketimbang rumah seniman? saya rasa tak ada. ini adalah salah satu diantaranya. rumah seniman yang nyentrik. hunian yang dekat dengan alam. rumah tinggal seperti surga.

tak ada satu ruang tamu. dimanapun bisa menjadi ruang tamu. lihat, ada ‘meja dan kursi’ dari batu alami yang dionggokkan begitu saja. dari sini, bisa melihat aliran kali elo dengan bebunyian aliran sungai. di sekitarnya tak ada pajangan guci atau kembang. yang ada, ilalang dan rumput yang tumbuh meliar.

memijak lantai semen, diatasnya adalah kamar soni. “ini kamar saya …” pamernya. sederhana. sebuah ranjang kayu tua berwarna dominasi hijau, dengan selimut merah menyala. lampu menguning membuat ruangan terasa lebih hangat. lihat, ada begitu banyak kerang. sebagai pembatas ruangan. sebagai pajangan. ada juga yang berbaris rapi di anak jendela.

bathub dan wc marmer agaknya melengkapi rumah seni ini menjadi kian nyeni. “nggak usah dihidupin lampunya, nanti dari sini keliatan …” selorohnya, dengan sedikit mengingatkan. aih. benar juga. tidak ada pintu kayu, besi maupun plastik. hanya selembar kain saja sebagai penghalang penglihatan ke kamar mandi ini. apalagi, jendela transparan akan membuat siapapun yang berada di dalam toilet menjadi tak tersamarkan. 

sebuah jembatan kayu menghubungkan antara kamar soni dengan teras samping. ayunan jejaring tali dengan pengait di setiap ujungnya. bersantai di ayunan sembari menunggu gagasan yang muncul dari balik manggar buah pisang, sepertinya menarik juga. iya, manggar yang agaknya sudah sulit dijumpai di pohon-pohon pisang di kota besar, di eloprogo masih berbiak dengan suburnya. merah. berdaging. enak dibikin gudeg.

batik-batik lawas maupun baru menggantung sempurna di sebagian dinding ruangan. terjalin rapi. berbaris. berderet. tertib. ada di kamar mandi. ada di ruang tengah. ada di bagian depan kamar soni. duh.

dan kami terus berbincang. membaca tarot. teh-jahe-serai menemani obrolan kami. ditambah, red label yang tinggal separo. juga dua kantong pothil, sisa criping talas dan dodol picnic. kami membincangkan keluarga, kliklik dan klukluk, made joni dan made mini, kalkun romeo-juliet, puluhan kucing, pekerjaan, queen of south, putri-putri yang menemani eloprogo, dan mimpi-mimpi masa depan.

hommy. saya makin hommy dengan eloprogo. dengan tanah. berkerikil. berbatu. tetumbuhan liar. galeri lukisan. panggung seni.

senang rasanya bertelanjang kaki di eloprogo. saya tak ingat, kapan terakhir bertelanjang kaki di tanah. halaman rumah di jogja sudah berkonblok, kecuali kebun ayah. kos dan kantor, juga tak menyisakan tanah secuilpun untuk berlarian. dibawah belasan pohon kelengkeng dan rambutan, saya berlarian. riang.

saya berlarian menuju pinggir sungai. dari atas, saya bisa menelan indahnya sungai yang berjalan menderas. pagar halaman dengan belasan pohon kelengkeng dan rambutan ini adalah tetumbuhan singkong, ilalang liar, pohon pisang, jati kecil dan pohon salak. tapi, saya masih bisa mengintip keruhnya sungai Elo.

keriangan ini menjadi berlipat saat lelaki dengan pjamas kotak-kotak merah memecah celengan rindu selama seminggu. dan tiga jam menjadi cuilan waktu yang menyenangkan. di halaman tanah berkerikil dengan tetumbuhan liar, dengan gemericik aliran sungai Elo, kami memecah rindu. tiga jam.

terima kasih, sudah boleh menyegarkan jiwa di surga dunia ini.

Written by femi adi soempeno

January 22, 2008 at 1:39 am

Csl @ Padang (1)

with 5 comments

Sejak bulan lalu saya sudah merencanakan untuk menyambangi Padang, Sumatra Barat. Hampir 28 tahun saya hidup, belum sekalinya saya menginjak tanah Sumatera. Duh, kebangetan banget ya! Menjumpai soulmate adalah tujuan utama. Selebihnya, plesiran dengan sepeda lipat untuk menghabiskan Padang dan Bukittinggi dalam dua malam.

Penerbangan dengan Adam Air pukul 6.50 pada hari Kamis (3/1/2008)dari CGK menuju PDG. Awalnya, saya ingin membungkus sepeda curve SL (csl) dengan koper. Hanya saja, koper yang ada di gudang ternyata kekecilan. Alhasil, disarungi dengan tas id-foldingbike saja, dan dibubuhi stiker fragile. Saya tak mengempeskan ban. Dus, csl standar ini membebani timbangan di meja check in seberat 15 kg.

Tiba di Padang, saya langsung menuju hotel Ambacang dengan biaya Rp 385.000 semalam. Hotel ini baru jalan 1,5 tahun, bekas sebuah pusat perbelanjaan di kota Padang. Sisanya masih ada, yaitu Kentucky Fried Chicken di sebelah belakang. Sekadar review aja, pub-nya brisik banget di malam hari! Uwh! Jedang-jedungnya berasa dari pukul 22.00-02.00.

Dari hotel ini, saya memesan travel untuk ke Bukittinggi. Ongkosnya Rp 25.000 sekali jalan. Sayangnya, jemputan travel agak terlambat sehingga baru meninggalkan padang pada pukul 12.20. Sepeda lipat yang saya usung di bagasi L300 sudah ditaksir oleh Adek, supir travel. “Di jakarta banyak? Yang ini ditinggal di Padang untuk kenang-kenangan ya!” selorohnya. Waduh, kenang-kenangannya mahal amat! Csl gitu lowh!

Sekitar dua jam kemudian, saya dibuang persis di pelataran Jam Gadang atau di sekitar Pasar Atas. Langit cukup biru. Beruntung, beberapa hari Padang dan Bukittinggi tidak hujan. Mencoba membuka lipatan sepeda, duh … beberapa orang Padang mengerubungi saya dan berbicara dengan bahasa Padang yang tidak saya mengerti. Sialnya, perbincangan mereka kemudian diikuti dengan derai tawa yang saya juga tak bisa pahami. Duh!

Saya memutari Pasar Atas. Mencoba pemanasan untuk tanjakan dan turunan. Lumayan lah. Tanjakannya tidak terlalu sadis. Turunannya juga tidak terlalu memanjakan pedal. Napas saya tak juga habis. Lantaran sejak pagi perut belum terisi, saya menyambangi kedai Simpang Raya di Jalan Sudirman. Saya menjejerkan csl di bagian parkir roda dua, bersama dengan kendaraan bermesin lainnya.

Menu yang saya lahap adalah dendeng balado dan ayam pop, plus teh talua. Segelas teh talua dibikin dari perpaduan telur dan gula plus susu yang dikocok lalu dituangkan air teh panas mendidih. Campuran telur itik, susu, dan teh menghasilkan minuman berwarna putih, coklat, dan kuning dengan busa di bagian atasnya. Mirip cappucino. Konon, minum teh talua, cukup handal untuk menambah stamina.

Saya butuh waktu sekitar setengah jam untuk menghapuskan bayangan ada telur di dalam teh yang hendak saya sruput. Sungguh, tak habis pikir saya ada adonan telur di dalam minuman tersebut. Diguyurkan begitu saja ke tenggorokan, wuih, lezat nian teh talua ni!

Beberapa pegawai Simpang Raya sempat mengintip sepeda yang hendak saya kayuh meninggalkan jalan Sudirman. Duh, jadi artis dadakan di daerah nih! Wakaka … menyusuri Jalan Sudirman, beberapa kendaraan menjejeri saya, mencermati csl, tersenyum, menganggukkan kepala, lantas ngeloyor pergi. Tentu saja, saya tak mau kalah, saya membunyikan bel. Kring ring!

Saya menyusuri jalanan yang agak kampung di Bukittinggi. Kawasan ini cukup nyaman untuk bersepeda. Dengan riang, saya mengayuh sepeda dengan kecepatan sedang. Rasanya sayang melewatkan Bukittinggi dengan terburu-buru. Sawah dan pemandangan yang asri masih bisa dinikmati dengan telanjang mata. Bahkan, Bukittinggi juga miskin polusi.

Saya bablas ke Pasar Bawah. Pasarnya sih tidak istimewa, seperti pasar kebanyakan. Yang menjadi istimewa adalah andong dan angkot yang saling berebut jalan. Jalannya Cuma secuplik, tapi digunakan untuk dua jalur. Banyak yang ngetem, pulak! Untungnya, bawa csl yang gesit. Saya sempat mampir ke  toko sepeda untuk mencari baut yang lepas dari fender csl. Duh, ternyata nggak ada. Yang ada, malah csl ditawar. Maunya, Rp 150 ribu! Aduh, kejam nian uda menawar segitu!

Saya berhenti di rumah kelahiran Bung Hatta dan mencoba berbincang sejenak dengan perawat rumah bersejarah itu, yaitu uni Desiwarti. Tentu saja, tak lupa mejeng di pelataran rumah Bung Hatta tersebut. Maunya sih saya mejengin sepeda persis di depan kasur Bung Hatta. Tapi, ga tega minta ijinnya!

Saya genjot ke Pasar Atas, ke kawasan Jam Gadang. Langit masih cerah. Hanya saja, sinarannya sudah tidak terlalu garang. Cucok banget lah buat potret-potret saat adem begitu. Saya terus mengayuh dari Pasar Bawah ke pasar Atas. Seorang polisi yang tengah mengatur jalanan yang hendak masuk ke kawasan Jam Gadang, sontak menghentikan peluitannya dan memandangi genjotan saya. Haduh, pak polisi, malu atuh diliatin begitu.

Pret … pret … pret … Jepretan saya pada csl saya tembakkan dengan latar Jam Gadang. Sedap! Saya dikagetkan oleh suara seorang laki-laki setengah baya, saat asik mencari angle jepretan. “Mbak, sini saya potretkan, kok kasihan yang dipotret Cuma sepedanya aja … “ Waduh, padahal yang penting ini sesungguhnya bukan saya, tapi sepedanya! Tapi, atas nama kenarsisan, boleh jugalah! Dan tanpa malu-malu, saya pun berpose dengan csl kesayangan. Asik asik asik asik!

Namanya Zenal, asli orang Padang yang berumah di Jalan Thamrin. Ia bekerja untuk sebuah travel agent di Padang. Sore itu, ia bersama dengan pak Tohir dan Hartanto, dua guide dari Jakarta yang tengah membawa 60 turis ke Padang dan Bukittinggi. Tak lama setelah saya dan uda Zenal berbincang seru, dua guide Jakarta pun bergabung. Dan mulai deh, mereka memegang-megang csl saya.

“Seumur hidup, baru kali ini saya lihat sepeda seperti ini,” kata uda Zenal. Ia juga menambahkan, di Bukittinggi nggak ada sepeda lipat seperti itu. “Lha, ini ada di Bukittinggi!” seloroh saya. Nah lo! Maka, secara bergantian ketiganya memegang, bahkan mencoba si csl. Obrolan yang seru soal sepeda lipat, Bukittinggi, dan Padang ternyata dikuping oleh orang-orang yang juga tengah ada di pelataran Jam Gadang. Anak-anak hingga orang dewasa, mereka perlahan merapat, memperhatikan sepeda lipat. Duh!

Saat saya melipat csl menjadi ukuran lipetan, duuuuuh … semakin banyak yang mengerubungi! Tentu saja, saya semakin bersemangat bercerita soal sepeda lipat dan komunitas id-fb! Rasanya seperti tengah orasi dalam sebuah demonstrasi! Gosh!

Ujung-ujungnya, uda Zenal bilang, “Untuk pertemuan yang menyenangkan ini, bagaimana kalau saya traktir di Simpang Raya?” Wah, boleh! Csl pun saya angkut. Saya mengangkutnya masih dalam bentuk lipatan, dengan pandangan yang penuh tanda tanya dari beberapa orang yang kami lewati. Pak Tohir dan pak Hartanto pun rebutan menyebrangkan csl dari pelataran Jam Gadang menuju Simpang Raya. Hahaha !!

Terlalu asik ngobrol, saya kehabisan travel menuju Padang. Uda Zenal berusaha mencarikan travel-travel yang masih berangkat belakangan. Tetap saja hasilnya nihil: penuh. Pukul 17.43, saya berpamitan untuk menuju Simpang Air untuk ambil travel tembakan. Sopir travel tembakan ini langsung menyambut saya yang berniat menyewa bangku di Panther merahnya.

Air mukanya berubah saat melihat sepeda yang saya tungganggi dari Jam Gadang. “Bawa sepeda? Tak muat, kak!” serunya, sambil garuk-garuk kepala saat melihat saya datang dengan sepeda. Saya hanya bilang, “Muat, ada bagasi?” Si sopir masih menggeleng. Dalam hitungan detik, saya melipat sepeda dan ia langsung berteriak-teriak dalam bahasa Padang yang tak saya tahu. Tapi segera saja, sopir-sopir di dan kernet di sekitar Simpang Jambu Air pun langsung berdatangan dan melihat csl dalam kondisi tengah dalam proses dilipat.

Selesai melipat, sopir pertama tadi langsung menjinjing csl saya ke bagasi belakang. Amin, akhirnya ada juga travel yang mengusung saya ke Padang. Jadinya, rencana perjumpaan dengan soulmate aman! Menunggu penumpang lain berdatangan, saya membaur bersama dengan sopir dan kernet di sebuah warung kopi. Pesanan saya sama, yaitu kopi hitam pahit. Lagi-lagi, mereka bertanya soal sepeda lipat. Dan lagi-lagi, saya menjelaskan soal sepeda lipat.

Travel berangkat ke Padang! Ongkos travel tembakan ini Rp 15.000. Murah? Hmm … tapi agak sadis. Satu Panther diisi untuk 11 penumpang, termasuk sopir. Demi kenyamanan perjalanan, maka saya memilih duduk di kursi depan, dan memesan 2 seat sekaligus! Horeee! Sementara penumpang lain berdesak-desakan di jok belakang, saya duduk dengan sangat comfort di depan. saya menambah ongkos Rp 10.000 lagi agar diantar sampai hotel. Cihuy!

Malam hari tidak ada nightride di Padang, soalnya saya menjadualkan untuk bertemu dengan pasangan jiwa. Ehm.

Written by femi adi soempeno

January 6, 2008 at 2:23 pm

Csl @ Padang (2)

with 3 comments

Saya bersepeda dengan curve SL (csl) dari hotel di hari Jumat usai terguncang gempa Bengkulu yang berkekuatan 6,3 scala richter sekitar pukul 14.29. Staf hotel bilang kalau hotel Ambacang tergolong cukup kokoh dengan banyak pilar. Gempa-gempa sebelumnya, hotel tempat saya menginap ini ‘hanya’ pecah kacanya saja, sementara bangunan hotel lain retak bahkan menjadi miring.

Gowsh. Gempa tetap saja gempa. Apapun bisa terjadi, sekokoh apapun sebuah bangunan! Rasanya seperti saat gempa Jogja 2006 lalu. Saat tidur siang, seperti sedang dibangunkan. Sadar bahwa itu gempa, saya menyabet laptop, tiket, blackberry dan dompet. Tubuh saya gemetaran hingga selama hampir 45 menit sesudahnya. Makanya, saya memutuskan untuk berkeliling kota Padang dan nightride di Ranah Minang ini.

Perjalanan pertama saya awali menuju ke kawasan pecinan di kota Padang. Saya mampir di warung kopi Nan Yo yang sudah kesohor. Letaknya ada di jalan Niaga, sebelah menyebelah dengan warung kopi Revita. Mandek di depannya, saya melipat sepeda dan membawanya masuk. Viktor, cucu pendiri warung kopi ini bengong aja melihat saya melipat sepeda dan menjinjingnya masuk ke warung kopinya, kemudian memarkirkan persis di samping meja.

“Kopi hitam tanpa gula, panukuk dan lamang baluo!” pesan saya pada Viktor. Tapi saya terlambat datang. Panukuk alias pannekoek atau serabi dan lamang baluo yang semacam lemper berisi unti itu sudah habis. “Adanya pagi hari,” kata Viktor. Aih! Bahkan, saya gagal mencicipi cakwe yang dimasukkan kopi tubruk, cara khas Padang! Aaaaah! Hasilnya, saya hanya bisa menikmati kopi tubruk tanpa gula, kesukaan saya, plus bakwan.

Di belakang tempat saya duduk, bergerombollah bapak-bapak yang usianya sekitar 50 tahun keatas. Mereka bercakap-cakap dalam bahasa padang. Saya memilih untuk menikmati suasana lawas di kedai kopi ini, mencermati desain kursi yang sudah ada sejak tahun 1932 yang diusung oleh kakeknya Viktor dari Eropa Timur, dan memperhatikan Viktor yang sering mencuri lihat csl saya.

Hingga Anton, laki-laki Jawa yang merantau ke Sumatera Barat menghampiri saya untuk bertanya, “Ini sepeda didatangkan dari mana?” Duh, nggak ada pertanyaan yang lebih sederhana ya? Hehe … bagi saya pertanyaan ini agak membingungkan. Maka saya jawab sekenanya, “Saya beli di Jakarta, lisensi Amerika, bikinan Taiwan, saya pakai untuk keliling di kota-kota yang saya kunjungi.”

Dan Anton pun duduk semeja dengan saya, kami berbicara soal kuliner di Padang dan perbandingannya dengan di tanah Jawa. Tak lupa, juga soal sepeda lipat dan komunitas id-foldingbike. Seru banget obrolan kami!

Sebelum bola raksasa menggelap, saya memutuskan untuk meninggalkan Nan Yo, dan menyusuri kawasan Muaro Padang, untuk menuju Jembatan Siti Nurbaya. Jembatan ini selain untuk menuju sisi muara yang lain juga merupakan akses menuju Gunung Padang dan Pantai Air Manis di mana hidup legenda Batu si Malin Kundang. Jembatan ini menuju makam Siti Nurbaya yang dibikin mencolok di ketinggian.

Menaiki jembatan ini, tak perlu pakai tenaga ekstra kok. Asal siap mental saja, rasanya enteng saja menapaki Jembatan Siti Nurbaya dengan csl. Apalagi, bakal terbayar dengan satu porsi jagung bakar dan pisang bakar yang sudah mulai berderet sejak sore hari di sepanjang jembatan. Semalam sebelumnya, saya bersama abang meniti jembatan ini. Indah nian di kala malam dengan hiasan lampu!

Pret … pret … pret! Csl mulai bergaya. Sip! Tak lupa, saya ikut berpose dengan gaya apa adanya bersama dengan csl. Saya minta tolong seorang uni berkerudung putih yang berbaik hati memotretkan beberapa frame untuk saya.

Matahari belum habis. Saya memutuskan untuk menikmati bola raksasa yang hendak bersembunyi dari pinggir Pantai Padang. Segendang seperjogetan dengan Jembatan Siti Nurbaya, di sepanjang pantai ini juga sarat dengan penjual jagung bakar, roti bakar, pisang bakar, plus kacang rebus. Sekitar dua genggam kacang rebus yang dibungkus plastik, saya dikutip Rp 5.000.

Saya memilih pisang bakar plus keju, dan duduk melamun di pinggir pantai. Ongkosnya sama, Rp 5.000 seporsi. Saya menyandarkan csl di pohon kelapa. Aih! Kalau saja ada moroners di pinggir pantai ini, pasti seru sekali! Melipat sepeda di pinggir pantai dan menantang ombak yang menggemuruh. Aiiihh! Setelah bernarsis-narsis sebentar, saya menarik diri dari pucuk pantai, dan mulai menggenjot ke pucuk pantai yang lain. Sedap nian menikmati angin Pantai Padang di sore hari.

Pukul 18.00 tepat, saya sudah berada di Gereja Katedral Padang. Jumat pertama di bulan pertama 2008, saya kok tidak ingin melewatkan ibadat. Konon, menyambangi gereja yang baru pertama kali dikunjungi, tiga permintaan bakal dikabulkan oleh Si Pemilik Hidup. Benar? Entah. Minta saja. Dan saya juga mengujubkan tiga permintaan pribadi padaNya. Amin. Amin. Amin.

Nightride dimulai. Saya mengelilingi kota Padang. Asal genjot, menikmati kota yang asing bagi indera saya. Udara malam yang menyesak. Sapuan angin di kulit. Angkot yang musiknya berdentuman seperti di nightclub dengan kerlap-kerlip lampu nan meriah. Menjelajahi jalanan yang saya tak tahu utara-selatan-barat-timur. Asal kayuh. Asal jalanan beraspal.
Dan Padang habis dalam semalam. “Ke mana arah Jalan Bundo Kanduang?” tanya saya pada seorang penjual rokok. Mendengar penjelasannya, wuih, jauh juga! Tapi ga masalah, pakai csl ini, dan tidak hujan! Horeeee!

Saya mandek di kedai Pagi Sore di Jalan Pondok. Melipat sepeda, dan memarkirkannya di sebelah meja saya. Ini adalah kedai milik orang keturunan Tionghoa. Menu masakannya sama dengan kedai lain yang saya jumpai di Padang, yaitu ya masakan Padang. Bedanya dengan yang lainnya, ada sentuhan Tionghoa dalam pengolahannya. Upamanya, rendang kacang yang gurih dibikin dari kacang putih. Contoh lainnya, tahu yang dimasak tauco dengan santan encer dan cabe hijau.

Di kedai yang sudah berusia sekitar 60 tahun ini saya mencicipi rendang yang berwarna hitam. Konon, masak rendang ini selama 12 jam diatas api kecil dari kayu bakar. Dagingnya cukup empuk meski cubitan pertama terasa keras. Rempahnya itu yang berasa bangeeettt di lidah!

Barangkali sudah kemalaman, saya tak kebagian ayam goreng yang dimasak dari ayam kampung berbumbu minimalis. Konon, ayam goreng di kedai ini digoreng dengan minyak kelapa. Hasilnya, nyaris tak kelihatan ada minyak yang menempel pada permukaan ayam.

Perjalanan berlanjut, masih ngubek-ubek kawasan kota. Mau mampir ke Martabak Kubang untuk mencicipi martabak mesir, hanya saja perut sudah tak muat! Martabak ini seperti martabak telur, tapi dimakan dengan kecap encer yang dicampur cuka, bawang bombay, irisan tomat, dan cabe rawit. Bayangkan sedapnya!

Pilihan martabak mesir ini atas rekomendasi seorang bapak-bapak yang saya jumpai di warung kopi Nan Yo. Menurutnya, martabak mesir yang kesohor ada di jalan Muhammad Yamin, dengan merek Martabak Kubang itu. Konon, disebut Martabak Kubang karena pemilik dan pekerjanya berasal dari Kampung Kubang, sebuah nagari yang terletak di Kabupaten 50 Kota, Sumatra Barat.

Lantaran harus siap berkemas untuk bertolak dari PDG ke CGK pada hari Sabtu (5/1/2008) dengan Garuda pada pukul 8.25 keesokan paginya, saya memilih kembali ke hotel. Menggenjot csl ke hotel, membungkusnya dengan tas id-foldingbike, dan menggudangkannya semalaman di samping meja resepsionis.

Setelah Padang, kemana lagi ya csl saya bawa?

Written by femi adi soempeno

January 6, 2008 at 2:21 pm