The red femi

Posts Tagged ‘ulang tahun

selamat ulang tahun!

leave a comment »

 selamat ulang tahun. you turn 35!

mestinya kamu ada di sini malam ini. saya sudah menyiapkan sebotol wine untuk merayakan usia yang menua. eits. semoga pilihan katanya tidak terlalu kurang ajar. tapi, bukankah tua itu sebuah masa yang tak terhindarkan?

ngomong-ngomong, bagaimana rasanya menjadi 35 tahun? ada ujaran bilang, all the world is a birthday cake. so, take a piece, but not too much. jadi, nikmati saja usia 35 tahun ini. besok usia ini tak lagi datang. ini hanya cuilan dari kue tart yang bernama hidup. kamu masih harus mengirisnya lagi tahun depan, tahun depan, tahun depan … dan semoga ‘tahun depan’ itu selalu datang untukmu. tentu saja, dengan penuh keberkahan.

jadi, apa yang didapat dalam perjalanan usia 34 ke 35 tahun ini? semoga berwarna, semeriah irisan lapisan pelangi setelah hujan di sore hari. keriaan. buncah bahagia. seulas senyum. isak  tangis. derai tawa. tak ada hidup sindah kelengkapan warna pelangi seperti ini kan?

senyum. hari ini kamu masih diberi hidup oleh Si Pembuat Hidup. bersyukurlah.

saatnya meninggalkan jejak kembali. membuat sesuatu yang berkualitas. ya, hidup itu sendiri. sooner or later we all discover that the important moments in life are not the advertised ones, not the birthdays, the graduations, the weddings, not the great goals achieved. the real milestones are less prepossessing. they come to the door of memory unannounced, stray dogs that amble in, sniff around a bit and simply never leave. our lives are measured by these.

selamat ulang tahun.

(ps: maaf ya, kemarin salah tanggal. agaknya setting ingatan dengan alarm di ponsel tidak lagi berjejalin. alarm sebagai pengingat ulang tahun berbunyi hari ini)

 

Written by femi adi soempeno

May 16, 2008 at 1:22 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

between two sisters

leave a comment »

one is here, one is there. one is a little taller than the other. two different styles of hair, two different outlooks on life, two very different views from their windows. both have different tomorrow ahead.

itu adalah cerita tentang the story of two very different sisters, buku kecil yang dihadiahkan oleh esti untuk saya. iya. esti, kakak semata wayang saya. dia menyertakan itu bersama hadiah yang dibawanya dari US untuk ulang tahun saya. aih. dia selalu begitu. selalu membanjiri orang-orang di sekitarnya dengan hadiah. lebih dari sekadar barang, ia hadir.

dan, kami berbeda. iya, kami bersaudara, berbeda, namun tetap berbagi.

each is unique in so many ways. each has her own story, with all the busy things going on in the present. each has different work to do and different demands on the day. each has a separate destination and a distincly different path to get there. but …

tapi kami mensyukuri perbedaan kami sebagai sebuah kelengkapan yang alami yang Dia hadiahkan untuk kami. kesibukan DC menenggelamkannya, sementara Jakarta sudah membikin saya menua. cita-citanya menjadi wartawan kandas dan saya menggantikannya.

for all the things that might be different and unique about them … these two sisters will always share so much. they will always be the best of family and friendsm entwined together, through all the days of their lives. their love will always be very special: gentle and joyful when it can be, strong and giving when it needs to be, reminding them, no matter how different their stories turn out.

dan kami terus berbagi. saling bersandar. hingga ia mampu mengandalkan si bungsu untuk merawat ibu dan ayah di ujung usia mereka. kami juga berbagi mimpi: tetap menjaga nama baik keluarga. dalam keseharian yang terpisah bermil-mil jauhnya, kami masih bisa membuncahkan tawa. sedikit hentakan dan tanda seru, namun terbayar dengan pelukan hangat dan perbincangan berjam-jam.

they share the incredibly precious gift of being ‘sisters’. and when you think some of the best things this world has to offer, a blessing like that is really … what it’s all about.

iya. kami sangat mensyukuri betapa kami saudara sekandung. meninggalkan masa kecil nan manis, penuh kegembiraan bersama ayah dan ibu. mengancik usia remaja dan memulai tanggung jawab sebagai anak. tidak ada tertua atau termuda. tidak ada sulung atau bungsu. sama-sama anak. sama-sama berbagi. membahagiakan orang tua. menghadiahkan yang terbaik untuk mereka.

saya bahagia punya esti. semoga esti juga bahagia punya saya.

Written by femi adi soempeno

April 16, 2008 at 10:13 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

menjadi 28 tahun

with 2 comments

ada yang tak berubah setahun belakangan ini.

banyak, banyak sekali. potret diri sepertinya sama saja. kubikel tetap saja berantakan. buku kian menggudang di kos-kosan. hunian mungil di palmerah semakin jarang ditinggali. alarm pukul 06.00 pagi tak juga membikin saya bergegas. pukul 22.00 tak mampu memaksa saya untuk pulang dan istirahat.

toh, usia 27 harus saya syukuri sebagai usia yang penuh berkat.

tahun lalu, memasuki usia 27 tahun, saya membubuhkan keinginan dan doa kecil di halaman putih ini. saya ingin menjadi pensil. tapi saya harus menyadari, nyatanya tak mudah menjadi pensil. rasa sakit setiap kali diraut, membuat saya kian runcing, kian terasah menjadi pensil tajam. tapi, saya juga meninggalkan remah-remah dari pensil yang diraut: kekeliruan kecil maupun kesalahan yang menjejak. aih.

dan saya tahu. Dia terus meraut saya untuk menjadi pensil yang lebih baik, lebih runcing, lebih tajam. saya harus belajar banyak. saya harus kian mengasah diri.

Dia memberikan saya banyak hal saat memasuki usia 28 tahun.

pekerjaan yang bagus. talenta menulis yang kian terasah. perjumpaan dengan teman-teman baru yang menyenangkan. berjejalin lagi dengan teman-teman lama yang hilang ditelan kesibukan. menyambangi eropa. menyusun rencana kecil untuk tahun 2008. bersepeda kembali setelah meninggalkan gowesan itu dua belas tahun silam. meriung di kubikel pojok. kesehatan yang lebih terawat. terima kasih.

makan mie di gang mangga bersama chris dan congli, menumbuhkan harapan kecil: semoga senantiasa bahagia dan panjang umur. cheesacake dari congli, tiramisu dari hendra, dan guyuran air serta jabat hangat dari kerabat, juga sebuah doa kecil. terima kasih. kalian begitu baik.

femi. perempuan. lajang. 28 tahun. weekday di jakarta dan weekend di jogja. menulis. saya mencoba mendefinisikan diri saat usia kian menua. tapi sama saja. tak ada yang berubah. tetap menulis. tetap ke jogja di ujung minggu. tetap bekerja di jakarta.  

mas heri, teman dari jogja yang kini bekerja di semarang, pernah membagi cerita tentang katak tuli.

Pada suatu hari ada segerombol katak-katak kecil yang menggelar lomba lari. Tujuannya adalah mencapai puncak sebuah menara yang sangat tinggi. Penonton berkumpul bersama  mengelilingi menara untuk menyaksikan  perlombaan dan memberi semangat kepada para peserta. Perlombaan dimulai…
 
Secara jujur: Tak satupun penonton benar2 percaya bahwa katak2 kecil akan bisa mencapai puncak menara. Terdengar suara: “Oh, jalannya terlalu sulitttt!! Mereka  TIDAK AKAN PERNAH sampai ke puncak.” atau: “Tidak ada kesempatan untuk berhasil…Menaranya terlalu tinggi…!!

Katak2 kecil mulai berjatuhan. Satu persatu, kecuali mereka  yang tetap semangat menaiki menara perlahan- lahan semakin tinggi…dan semakin tinggi.. Penonton terus bersorak
“Terlalu sulit!!! Tak seorangpun akan berhasil!”

Lebih banyak lagi katak kecil lelah dan menyerah..Tapi ada  SATU yang melanjutkan hingga semakin tinggi dan tinggi. Dia tak akan menyerah!

Akhirnya yang lain telah menyerah untuk menaiki menara. Kecuali  satu katak kecil yang telah berusaha keras  menjadi  satu-satunya yang berhasil mencapai puncak! SEMUA katak kecil yang lain ingin tahu bagaimana katak ini bisa melakukannya?

Seorang peserta bertanya bagaimana cara katak yang berhasil menemukan kekuatan untuk mencapai tujuan? Ternyata, katak yang menjadi pemenang itu TULI!!!!

cerita katak ini ingin mengajarkan agar kita jangan pernah mendengar orang lain yang mempunyai kecenderungan berpikir negatif ataupun pesimis karena mereka mengambil sebagian besar mimpi kita dan menjauhkannya dari kita. karena itu tetaplah selalu berpikir positif.  dan yang terpenting, berlakulah TULI jika orang berkata kepada kita bahwa kita tidak bisa menggapai cita-cita maupun menyelesaikan semua pekerjaan kita.

selalu berpikirlah: I can do this!

iya. saya tahu, menjadi 28 tahun juga bukanlah perkara mudah. membutuhkan lebih banyak kedewasaan. lebih banyak kebijaksanaan. melihat dari atas dan dari jauh, bukan dari samping kanan-kiri saja. harus bisa memilih dan memilah yang terbaik.

hubungan pertemanan yang meruwet dan kisah cinta yang kocar-kacir, saya yakin, saya akan bisa membereskannya di usia ini. setidaknya, menjelaskan pada diri sendiri soal keruwetan dan kekocar-kaciran ini. I can do this.

dan saya harus menyiapkan diri untuk memasuki usia 29 tahun.

Written by femi adi soempeno

April 4, 2008 at 12:29 am

ibu, selamat ulang tahun

leave a comment »

kalau ibu masih ada, beliau berusia 64 tahun hari ini.

delapan tahun silam, ibu menutup hidup di usia 56 tahun. umur yang tak lagi muda, tetapi juga belum tua. penyakit yang sangat ruwet menggerogotinya. menggambilnya dari kehidupan kami. umh. kami menyebutnya: semuanya Tuhan yang mau.

memang Tuhan yang mau. saya tak lagi beribu. tapi ibu tetap tinggal di hati.

mom.jpgsaya membayangkan ibu di usia 64 tahun. ibu pasti tak berkebaya, seperti simbah. ibu tetap akan mengenakan daster di rumah. tak lagi bekerja. menjadi tukang masak di rumah untuk dua putrinya. “tak gawekke mi godog, sing penting ceblang-ceblung …” menjadi tukang jahit untuk suaminya. sampai-sampai, pakaiannya sendiri pun tak sempat dirampungkan. duduk manis menonton teve. menyirami kebun ayah. menjadi tukang angkat telepon. mengunjungi rumah simbah buyut di desa. membawakan lauk saban sore untuk simbah. beberes rumah, dan menyetrika. dan si bungsu merebahkan kepalanya ke pangkuan ibu saat letih mendera.

tetapi tidak. Tuhan tak lagi mau ibu mendampingi kami. Dia sendiri yang menggantikannya. dan, ibu tinggal duduk manis saja di surga. dengan ayah. dengan simbah.

untuk ibu yang senyumnya seringan kapas: selamat ulang tahun.

Written by femi adi soempeno

April 1, 2008 at 2:42 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , ,

tell me that you lie …

with 2 comments

“tell me that you lie …” katanya.

saya menggeleng. padanya, saya mengangguk. mencoba meyakinkan bahwa saya tidak berbohong. iya, memang saya tidak berbohong. saya bilang padanya, “ibu saya ulang tahun hari ini …”

sekali lagi, dia bilang, “no … tell me that you lie. bagaimana bisa kita ulang tahun pada tanggal yang sama, dan ibu kita juga ulang tahun pada tanggal yang sama?” tanyanya.

saya menggeleng. “saya tidak tahu. kenyataannya begitu!”

dan, memang begitu senyatanya.

pagi dalam perjalanan dari jakarta ke jogja, saya mengintip paspor kyle. saya bilang, “owh, kita ulang tahun pada tanggal yang sama!” kyle yang sedang membaca majalah, langsung meletakkan majalah itu, menatap saya dan menggeleng. “tidak mungkin …” tapi, memang begitu. mungkin. dua orang berulang tahun pada tanggal yang sama, bukankah sangat-sangat-sangat mungkin?

kami kemudian tidak pernah membincangkan lagi. hanya saja, saya mencoba mencemati kebiasaan, tingkah laku, sifat dan watak yang melekat pada kami. sama? tidak sama?

kami punya banyak kesamaan: bukan makhluk pagi. suka outdoor activities. penyuka kodok dan gajah. tak suka keteraturan.

dan malam ini kami menemukan hal baru: ibu kami ulang tahun di tanggal yang sama.

esti berteriak lewat surat elektroniknya. “whatttttt??????? sampe ibu saja ultahnya sama?”

Written by femi adi soempeno

April 1, 2008 at 1:34 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

kalau masih hidup, hari ini ayah berusia 80 tahun

with 4 comments

kalau ayah masih hidup, ia 80 tahun pada hari ini.

bangun pagi, mendengarkan radio lokal sembari menyeruput segelas kopi atau kopi susu. mungkin uyon-uyon jawa, bisa juga wayang. atau, radio nederland siaran indonesia. sesudahnya, membaca alkitab dan renungan harian lewat radio. saat bola raksasa itu bergerak pelan, ayah akan memasak nasi dengan magic jar. nasi itu dimasak untuk seharian. makan pagi, makan siang, makan malam.

saat fajar sudah menyapa dengan cahaya, ayah mulai berkebun, memberesi perkakas di rumah kecil, dan membuang sampah. ayah bisa berkebun selama berjam-jam. bisa jadi seharian. memangkas daun yang menguning dan menanggalkan batang-batang yang mengering. selebihnya, memindahkan pot dan membenamkan tanaman baru di tanah yang masih basah. ayah akan mengentaskan gerah dan keringat dengan mengirisi buah mahkotadewa di dapur. siaran radio yang menyumpal kupingnya adalah radio konco tani.

ayah akan disibukkan oleh teriakan bocah-bocah kecil. ya, anak-anak yang minta didongengi dengan spelling ABC dalam bahasa inggris. atau, permainan pelepas penat usai sekolah seharian. puzzle. flash card. scrabble. seharian, ayah akan memindahkan keriangan berbahasa inggris untuk bocah-bocah itu. deritan kursi besi beradu dengan lantai traso dan tudingan penunjuk kayu pada papan tulis, adalah sebuah penanda. iya, penanda bahwa ayah ada di rumah kecil itu.

dan ayah memilih untuk mengasup energi sebentar. lima belas menit. tiga puluh menit. sesudahnya, meriung dengan bocah-bocah itu kembali di sore hari.

hingga ayah kelelahan di sore hari. tubuhnya melunglai. letih. tapi senyumnya tak akan habis. semangatnya juga tak meluruh. Si Pemilik Hidup membunyikan lonceng pukul 19.00. ayah berdoa bersama dengan teman-temannya. legio mariae. rosario. masa adven. pendalaman kitab suci. peringatan mereka yang meninggal. sembayangan syukuran. dan ayah tak pernah membangkrutkan niatnya untuk berterima kasih pada Si Pemilik Hidup.

malam akan menambal segenap energi kegembiraan yang terhambur seharian.

“fem, itu ayah masih menyisihkan secuil ikan bandeng buatmu,” kata ayah, dalam bahasa jawa. “ada di kulkas,” sambungnya. iya, ayah tak pernah lupa membagi lauknya yang mungil untuk si bungsu.

atau.

“ayah beli mangga tiga. satu untukmu. satu untuk yayuk. dan satu untuk ayah. karena kalian tidak ada, maka ketiganya ayah makan semua,” katanya. aih. ayah tak pernah kehabisan akal untuk membuat si bungsu tergelak.

dan ayah mulai memindahkan keseharian ini bersama ibu dirumahNya, sejak Mei 2006 silam.

kalau ayah masih hidup, pasti, kue tart saya bingkiskan untuknya, hari ini. 

Tuhan tolonglah sampaikan
Sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji
Tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya
Ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu ——— Ada Band, Yang Terbaik Bagimu (Jangan Lupakan Ayah)

selamat ulang tahun ayah. kali ini, kue tart dari ibu pasti lebih lezat. tahu kenapa ayah? karena ibu membungkusnya dengan pita merah dan memberikannya pada ayah dengan pelukan dan ciuman yang sangat hangat. iya, disana di rumah Si Pemilik Hidup.

Written by femi adi soempeno

February 5, 2008 at 4:51 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , , ,

saka wiratama

with 2 comments

kemarin saya mentowel pipi saka wiratama.

pipinya merah, mirip gumpalan daging sapi segar. atau, mirim bun. padanan lainnya seperti bakpao yang ditempel di wajahnya. bisa jadi, pipinya yang memenuhi wajahnya yang membikin kedua matanya menyipit dan sering mengatup. wah. saya jawil pipinya. mulus. halus. lembut sekali.

kulitnya putih, beberapa bagian tubuhnya kemerahan membintik. konon, itu karena alergi susu. tangannya terus bergerak. melambai. seolah mengatakan, “halo tante femi …” pada saya. sambil mata sipitnya melirik. maut sekali lirikannya. aduh. lucunya anak ini.

saka wiratama menyapa dunia, senin (1/1) lalu. pisau tajam merobek kulit febi, ibunya. kemunculan saka membikin derai tawa aan tak ada habisnya. “eh, yang digendong ini anakku, bukan anak orang lain. rasanya beda …” kata aan. saya ikut bergembira. aduh, keponakan saya bertambah satu.

suatu saat dahi saka mengerenyit, saat aan mencoba membopong. ia pasti tahu siapa yang membopong. tapi, bukan itu perkara dahinya mengerut. ia sangat tahu ayahnya belum mandi. masih bau matahari. masih ada banyak debu menempel di baju hitamnya. masih bau ari-arinya sendiri. dan saka bersin.

aan juga ayah yang edan.

ia membopong saka, melarikannya kecil sambil meraung, “nggggg …. ngggg … ngggg … ” seperti kendaraan yang melaju. saka dibopong rendah. ah, ini mah gayanya aan banget. bedanya, saya tak lagi menyebutnya sebagai ‘aan edan’, tapi ‘ayahnya saka edan’.

kemunculan saka menjadi penanda genapnya keluarga muda itu. lebih dari itu, saka akan lebih menyibukkan aan maupun febi. saka juga akan memaksa keduanya berperan seperti orang tua kebanyakan. mmm … seperti pak pos, yang tak ada hentinya mengantarkan amplop putih setiap hari. bedanya, yang diantarkan keduanya adalah sepucuk kasih, butir kebijaksanaan, dan harapan untuk masa depan saka.

“ada yang bisa huruf jawa? tulisin ‘saka wiratama’ dong … pssst, aku mau bikin tato di lenganku tulisan jawa dengan nama anakku itu,” kata aan.

dasar ayahnya saka edan.

Written by femi adi soempeno

October 4, 2007 at 12:37 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,